Tampilkan postingan dengan label iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iman. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juli 2016

Khutbah Jumat: Lepas dari Ramadhan




إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. (آل عمران: 102)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. (النساء: 1)

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. (الأحزاب: 70-71)

أَمَّا بَعْدُ:

Jama'ah Jumat yang dirahmati Allah.
Telah berlalu bulan Ramadhan yang merupakan bulan penuh berkah. Bulan diturunkannya al Qur'an. Bulan yang memiliki malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Bulan yang kita lihat dan saksikan banyak kaum muslimin menggunakannya untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Bulan yang di dalamnya Allah lipat gandakan pahala, Allah belenggu setan. Sehingga apabila manusia melakukan ketaatan tidak diganggu setan dan apabila melakukan dosa dan kejahatan tidak lain adalah atas kemauannya sendiri, karena setan telah dibelenggu secara dhahir dan maknawinya.
Satu ayat yang sering kita dengar di bulan Ramadhan yang lalu:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa" (Al Baqarah: 183)
Dua kata kunci yang ingin saya tekankan di sini adalah IMAN dan TAKWA. Jika kita mengikuti ayat Allah subhanahu wa ta'ala ini, tujuan utama kita berpuasa adalah sebagai orang yang beriman yang bertakwa. Lihatlah bagaimana agungnya derajat orang yang Allah terima amalnya di dalam bulan Ramadhan. Terkhusus puasa Ramadhan. Yaitu bertakwa. Allah subhanahu wa ta'ala telah menetapkan kedudukan orang bertakwa sebagaimana berikut:
 إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. (QS. Al Hujurat: 13)
Lalu bagaimana jika suatu negeri orang-orangnya pada beriman dan bertakwa? Allah subhanahu wa ta'ala telah menjanjikan sejak 14 abad yang lalu sebagaimana firman Allah berikut ini:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96)
Setelah 30 hari berlalu di bulan Ramadhan, maka tibalah bulan Syawal. Di mana di bulan ini diawali dengan ibadah tanda kemenangan. Ibadah yang menunjukkan kebahagiaan. Yaitu dimulai dengan membagikan zakat fitrah selain sebagai kewajiban bagi kita, juga sebagai pertanda rasa syukur kita tela diberi kesempatan Allah untuk bisa bertemu dan beribadah di bulan Ramadhan, serta masih bisa bertemu dengan bulan Syawal. Di pagi harinya kita berduyun-duyun ke lapangan dan sebagian ada yang ke masjid untuk menjalankan shalat idul Fitri.
Kini, setelah kita menjalani itu. Ada pertanyaan yang wajib kita tanyakan kepada diri kita sendiri. Apakah ada perubahan yang baik dalam diri kita? Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“Dan rugilah orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan namun belum mendapatkan ampunan ketika berpisah dengannya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, beliau mengatakan hadits hasan gharib)

Ibnu Rajab al Hanbaly rahimahullah mengatakan:
"Tidaklah hari raya itu untuk orang yang memakai (pakaian) baru. Sesungguhnya hari raya itu milik orang yang ketaatannya bertambah."
Beliau rahimahullah juga mengatakan:
"Barangsiapa mengerjakan suatu ketaatan dan selesai darinya, maka tanda diterima ketaatan itu adalah seseorang itu menggandeng dengan ketaatan lainnya. Dan tanda tidak diterimanya ketaatan tersebut adalah seseorang menggandeng ketaatan itu dengan maksiat." (Lathaiful Ma'arif: 289)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sebagai seorang muslim apakah ilmu kita bertambah setelah Ramadhan ini? Yaitu ilmu tentang bagaimana beribadah kepada Allah. Ilmu tentang agama Islam ini. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran: 19).
Agama yang telah diresmikan oleh Allah sebagai satu-satunya agama yang Dia terima. Oleh karena itu kita wajib mensyukuri telah memeluk agama yang sempurna ini untuk memahami ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya, Allah subahanahu wa ta'ala juga berfirman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله
“Maka ketahuilah (ilmuilah) bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan ( yang haq) melainkan Allah.” (QS. Muhammad : 19)
Al Imam Al Biqo’i berkata: “Sesungguhnya ilmu tentang (لاَ إِلهَ إِلاَّ الله) ini merupakan ilmu yang paling agung yang dapat menyelamatkan dari kengerian di hari kiamat (Fathul Majid hal. 54) .
Dan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
((مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ))
“Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya,maka Allah akan fahamkan dia dalam agamanya.”
Sebagai anak, sudahkah kita memuliakan dan membahagiakan orang tua kita. Karena Jibril 'alaihis salam telah berdoa:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,
أن رسول الله صلى الله عليه و سلم رقي المنبر فقال : آمين آمين آمين فقيل له  يارسول الله ما كنت تصنع هذا ؟ ! فقال : قال لي جبريل : أرغم الله أنف عبد أو بعد دخل رمضان فلم يغفر له فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد أدرك و الديه أو أحدهما لم يدخله الجنة فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد ذكرت عنده فلم يصل عليك فقلت : آمين
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam naik mimbar lalu beliau mengucapkan, ‘Amin … amin … amin.’ Para sahabat bertanya, ‘Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?’ Kemudian, beliau bersabda, ‘Baru saja Jibril berkata kepadaku, ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadan tanpa mendapatkan ampunan,’ maka kukatakan, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun itu tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua),’ maka aku berkata, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang tidak bersalawat ketika disebut namamu,’ maka kukatakan, ‘Amin.””
Sebagai orang tua, sudahkah kita mendidik keluarga untuk menegakkan agama Islam ini dengan baik? Minimal apakah kita sudah mendidik anak-anak kita membaca al Qur'an dan shalat lima waktu berjamaah dengan baik? Padahal anak-anak kita itu adalah tanggung jawab kita mendidiknya.
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، حَتَّى يُعْرِبَ عَنْهُ لِسَانُهُ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara), maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabir.
Dalam hidup bertetangga atau bermasyarakat, sudah meningkatkah manfaat yang kita bagikan kepada mereka. Sudah amankah mereka dari perilaku buruk kita.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (( مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ)). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Beberapa hal di atas adalah amalan-amalan yang apabila kita sudah melakukan dan meningkat setelah bulan Ramadhan berlalu, insyaAllah menunjukkan amalan kita diterima Allah subhanahu wa ta'ala. Kalaupun kita tidak tahu apakah amalan kita diterima Allah subahanahu wa ta'ala paling tidak amaln-amalan itu adalah wujud rasa syukur kita masih diberi Allah kesempatan mengerjakan amal-amal mulia tadi
Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang dapat melaksanakan amal-amal kebaikan tersebut.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. تَقَبَّلَ اللهُ عَمَلَنَا وَعَمَلَكُمْ وَجَعَلَهَا فِي مِيْزَانِ حَسَنَاتِنَا، إِنَّهُ وَلِيُّ ذَلِكَ وَالْقَادِرُ عَلَيْهِ

Khutbah kedua
الحَمْدُ لِلهِ مُقَدِّرِ الْمَقْدُوْرِ وَمُصَرِّفِ اْلأَيَّامِ وَالشُّهُوْرِ، وَأَحْمَدُهُ عَلَى جَزِيْلِ نِعَمِهِ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الشَّكُوْرُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا إِلَى الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ، أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,.
Adapun dalam menemui bulan Syawal ada di antara kita yang mengalami ujian dari Allah subhanahu wa ta'a. Perlu diketahui, sesungguhnya ujian yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala bukanlah suatu hal yang bisa dihindari. Karena kita wajib mengimani masalah taqdir, yaitu segala sesuatu yang kita alami sudah tercatat oleh Allah di Lauh Mahfudz dan di lembaran-lembaran taqdir yang Allah berika kepada para malaikat yang diutus, baik itu taqdir yang baik atau yang kita rasakan buruk.
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّ
"Kemudian dia bertanya lagi: “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman“. Beliau bersabda: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.”" (HR Muslim)
Ingatlah, bahwa apa yang kita rasakan beban berat ujian ini sebenarnya sangatlah sedikit yang Allah berikan. Sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta'ala firmankan:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ٢:١٥٥
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ٢:١٥٦
أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ ٢:١٥٧
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. [al Baqarah/2:155-157]
Lihatlah yang Allah janjikan. Jika kita bersabar menghadapi ujian Allah maka Allah akan memberikan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari-Nya. Dan kita akan dimasukkan dalam golongan orang yang mendapat petunjuk.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (ali Imraan: 200)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Seorang muslim sejati tidak pernah terlepas dari tiga keadaan yang merupakan tanda kebahagiaan baginya, yaitu bila dia mendapat nikmat maka dia bersyukur, bila mendapat kesusahan maka dia bersabar, dan bila berbuat dosa maka dia beristighfar (Qowa’idul Arba’, hal. 01),
Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Bagaimanapun keadaannya, dia tetap masih bisa meraih pahala yang banyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita jalani bulan syawal ini dengan ibadah dan ketaatan, bukan maksiat dan kesia-siaan. Jika merasa ramadhan kemarin terlalaikan, segeralah beristighfar, mohon ampun dan mohonlah diberi Allah kesempatan untuk bisa bertemu dengan ramadhan berikutnya. Dn janganlah berputus asa dalam mencapai rahmat Allah. segeralah qadha hutang puasa jika memiliki. kerjakan puasa Syawal jika mampu, sebagaimana hadits berikut ini:
Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).
Semoga Allah menerima ibadah kita selama bulan ramadhan kemarin. Jika ada cacat semoga Allah sempurnakan ibadah kita. Jika masih kurang semoga Allah memberikan kita kesempatan memperbaikinya.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ في كُلِّ مَكَانٍ. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْلَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ ... اذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

insya Allah saya sampaikan besok di masjid RS Gatoel Mojokerto.


Sabtu, 11 Juni 2016

Hadits Arba'in No. 2 Islam Iman dan Ihsan

HADITS KEDUA
Islam, Iman dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .

[رواه مسلم]



Arti hadits / ترجمة الحديث :

Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“. Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata: “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda: “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.
(Riwayat Muslim)

Penjelasan Ringkas:
 "Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari" menunjukkan betapa tawadlu'nya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang terbiasa duduk-duduk denganpara shahabat. "... seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya" dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin rahimahullahu ta'ala bahwa lelaki itu usianya masih muda, bajunya sangat putih menunjukkan bukan dalam kondisi safar, tetapi di Madinah tidak ada seorang pun yang mengenalnya. (Kitab Syarah Arba'in Nawawi)

Lalu laki-laki itu mendekat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan menyebut "Yaa Muhammad.." menunjukkan akrabnya laki-laki itu dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Dia menanyakan tentang Islam. Islam adalah satu-satunya agama yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran: 19).

Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab Islam itu:
1. Bersaksi tidak ada yang patut disembah kecuali Allah semata, dan Muhammad adalah Rasulullah (utusan Allah). Persaksian ini tidak dapat dipisah. Persaksian ini menyatakan tauhid dalam beribadah hanya kepada Allah semata dan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
2. Mendirikan shalat. Shalat fardhu adalah membedakan antara seorang yang muslim dan kafir. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam artinya:
 
“Sesungguhnya ( batas pemisah ) antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” ( HR. Muslim, dalam kitab al iman ).

3. Membayar zakat. Zakat ini adalah termasuk 3 amalan dasar dalam Islam, jika seseorang tidak mau berzakat padahal dia mampu maka bisa diperangi. Allah Ta'ala mensyari'atkan kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam untuk memerangi manusia yang tidak melaksanakan shalat dan mengeluarkan zakat.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكاَةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءُهُمْ وَأَمْوَالُـهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالىَ [رواه البخاري ومسلم ]

Dari Ibnu 'Umar radhiallahu 'anhuma, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah, menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat. Barangsiapa telah mengucapkannya, maka ia telah memelihara harta dan jiwanya dari aku kecuali karena alasan yang hak dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah ta'ala".
(HR. Bukhari dan Muslim).
 
Tatkala Rasulullah wafat dan Abu Bakar Ash Shiddiq diangkat sebagai khalifah untuk menggantikannya, sebagian dari orang Arab menjadi kafir. Abu Bakar bertekad untuk memerangi mereka sekalipun di antara mereka ada yang tidak kafir tetapi menolak membayar zakat. Abu Bakar lalu mengemukakan alasan perbuatannya itu, tetapi 'Umar berkata kepadanya : "Bagaimana engkau akan memerangi manusia sedangkan mereka mengucapakan laa ilaaha illallaah dan Rasulullah bersabda : "Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah ... dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah Ta'ala". Abu Bakar lalu menjawab : "Sesungguhnya zakat itu adalah kewajiban yang bersifat kebendaan". Lalu katanya : "Demi Allah, kalau mereka merintangiku untuk mengambil seutas tali unta yang mereka dahulu serahkan sebagai zakat kepada Rasulullah, niscaya aku perangi mereka karena penolakannya itu". Maka kemudian Umar mengikuti jejak Abu Bakar untuk memerangi kaum tersebut. 

4. Puasa Ramadhan. Dalam bulan Ramadhan terkumpul banyak amalan seperti puasa, shalat, zakat, sedekah , membaca al Qur'an dan amal lainnya yang dilipatgandakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

5. Haji ke baitullah jika mampu.

Dari kelima rukun Islam di atas urutan yang tidak berubah adalah 1, 2, dan 3, sedangkan yang 4 dan 5 bisa ditukar. Sebagaimana hadits ketiga yang insyaAllah akan kita bahas berikutnya. Itu karena urutan 1-3 wajib dikerjakan, untuk zakat bagi yang mampu wajib. Sedangkan untuk puasa dan haji banyak rukhshah di dalamnya. Puasa jika tidak mampu bisa diqadla di lain hari atau membayar fidyah, insyaAllah akan dibahas rinci di bahasan berikutnya. Sedangkan haji tidak hanya harta sebagai syaratnya, walaupun memiliki harta untuk berhaji tetapi secara fisik tidak mampu maka tidak dibebankan kewajiban untuk menjalankannya.

InsyaAllah untuk iman dan ihsan akan dibahas pada ahad depan.

(Disampaikan di Masjid Al Basith Puri Mojokerto, 12 Juni 2016 ba'da shubuh)