Kamis, 07 Juli 2016

Khutbah Jumat: Lepas dari Ramadhan




إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. (آل عمران: 102)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. (النساء: 1)

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. (الأحزاب: 70-71)

أَمَّا بَعْدُ:

Jama'ah Jumat yang dirahmati Allah.
Telah berlalu bulan Ramadhan yang merupakan bulan penuh berkah. Bulan diturunkannya al Qur'an. Bulan yang memiliki malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Bulan yang kita lihat dan saksikan banyak kaum muslimin menggunakannya untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Bulan yang di dalamnya Allah lipat gandakan pahala, Allah belenggu setan. Sehingga apabila manusia melakukan ketaatan tidak diganggu setan dan apabila melakukan dosa dan kejahatan tidak lain adalah atas kemauannya sendiri, karena setan telah dibelenggu secara dhahir dan maknawinya.
Satu ayat yang sering kita dengar di bulan Ramadhan yang lalu:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa" (Al Baqarah: 183)
Dua kata kunci yang ingin saya tekankan di sini adalah IMAN dan TAKWA. Jika kita mengikuti ayat Allah subhanahu wa ta'ala ini, tujuan utama kita berpuasa adalah sebagai orang yang beriman yang bertakwa. Lihatlah bagaimana agungnya derajat orang yang Allah terima amalnya di dalam bulan Ramadhan. Terkhusus puasa Ramadhan. Yaitu bertakwa. Allah subhanahu wa ta'ala telah menetapkan kedudukan orang bertakwa sebagaimana berikut:
 إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. (QS. Al Hujurat: 13)
Lalu bagaimana jika suatu negeri orang-orangnya pada beriman dan bertakwa? Allah subhanahu wa ta'ala telah menjanjikan sejak 14 abad yang lalu sebagaimana firman Allah berikut ini:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96)
Setelah 30 hari berlalu di bulan Ramadhan, maka tibalah bulan Syawal. Di mana di bulan ini diawali dengan ibadah tanda kemenangan. Ibadah yang menunjukkan kebahagiaan. Yaitu dimulai dengan membagikan zakat fitrah selain sebagai kewajiban bagi kita, juga sebagai pertanda rasa syukur kita tela diberi kesempatan Allah untuk bisa bertemu dan beribadah di bulan Ramadhan, serta masih bisa bertemu dengan bulan Syawal. Di pagi harinya kita berduyun-duyun ke lapangan dan sebagian ada yang ke masjid untuk menjalankan shalat idul Fitri.
Kini, setelah kita menjalani itu. Ada pertanyaan yang wajib kita tanyakan kepada diri kita sendiri. Apakah ada perubahan yang baik dalam diri kita? Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“Dan rugilah orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan namun belum mendapatkan ampunan ketika berpisah dengannya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, beliau mengatakan hadits hasan gharib)

Ibnu Rajab al Hanbaly rahimahullah mengatakan:
"Tidaklah hari raya itu untuk orang yang memakai (pakaian) baru. Sesungguhnya hari raya itu milik orang yang ketaatannya bertambah."
Beliau rahimahullah juga mengatakan:
"Barangsiapa mengerjakan suatu ketaatan dan selesai darinya, maka tanda diterima ketaatan itu adalah seseorang itu menggandeng dengan ketaatan lainnya. Dan tanda tidak diterimanya ketaatan tersebut adalah seseorang menggandeng ketaatan itu dengan maksiat." (Lathaiful Ma'arif: 289)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sebagai seorang muslim apakah ilmu kita bertambah setelah Ramadhan ini? Yaitu ilmu tentang bagaimana beribadah kepada Allah. Ilmu tentang agama Islam ini. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran: 19).
Agama yang telah diresmikan oleh Allah sebagai satu-satunya agama yang Dia terima. Oleh karena itu kita wajib mensyukuri telah memeluk agama yang sempurna ini untuk memahami ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya, Allah subahanahu wa ta'ala juga berfirman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله
“Maka ketahuilah (ilmuilah) bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan ( yang haq) melainkan Allah.” (QS. Muhammad : 19)
Al Imam Al Biqo’i berkata: “Sesungguhnya ilmu tentang (لاَ إِلهَ إِلاَّ الله) ini merupakan ilmu yang paling agung yang dapat menyelamatkan dari kengerian di hari kiamat (Fathul Majid hal. 54) .
Dan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
((مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ))
“Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya,maka Allah akan fahamkan dia dalam agamanya.”
Sebagai anak, sudahkah kita memuliakan dan membahagiakan orang tua kita. Karena Jibril 'alaihis salam telah berdoa:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,
أن رسول الله صلى الله عليه و سلم رقي المنبر فقال : آمين آمين آمين فقيل له  يارسول الله ما كنت تصنع هذا ؟ ! فقال : قال لي جبريل : أرغم الله أنف عبد أو بعد دخل رمضان فلم يغفر له فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد أدرك و الديه أو أحدهما لم يدخله الجنة فقلت : آمين ثم قال : رغم أنف عبد أو بعد ذكرت عنده فلم يصل عليك فقلت : آمين
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam naik mimbar lalu beliau mengucapkan, ‘Amin … amin … amin.’ Para sahabat bertanya, ‘Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?’ Kemudian, beliau bersabda, ‘Baru saja Jibril berkata kepadaku, ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadan tanpa mendapatkan ampunan,’ maka kukatakan, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun itu tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua),’ maka aku berkata, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang tidak bersalawat ketika disebut namamu,’ maka kukatakan, ‘Amin.””
Sebagai orang tua, sudahkah kita mendidik keluarga untuk menegakkan agama Islam ini dengan baik? Minimal apakah kita sudah mendidik anak-anak kita membaca al Qur'an dan shalat lima waktu berjamaah dengan baik? Padahal anak-anak kita itu adalah tanggung jawab kita mendidiknya.
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، حَتَّى يُعْرِبَ عَنْهُ لِسَانُهُ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara), maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabir.
Dalam hidup bertetangga atau bermasyarakat, sudah meningkatkah manfaat yang kita bagikan kepada mereka. Sudah amankah mereka dari perilaku buruk kita.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (( مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ)). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Beberapa hal di atas adalah amalan-amalan yang apabila kita sudah melakukan dan meningkat setelah bulan Ramadhan berlalu, insyaAllah menunjukkan amalan kita diterima Allah subhanahu wa ta'ala. Kalaupun kita tidak tahu apakah amalan kita diterima Allah subahanahu wa ta'ala paling tidak amaln-amalan itu adalah wujud rasa syukur kita masih diberi Allah kesempatan mengerjakan amal-amal mulia tadi
Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang dapat melaksanakan amal-amal kebaikan tersebut.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. تَقَبَّلَ اللهُ عَمَلَنَا وَعَمَلَكُمْ وَجَعَلَهَا فِي مِيْزَانِ حَسَنَاتِنَا، إِنَّهُ وَلِيُّ ذَلِكَ وَالْقَادِرُ عَلَيْهِ

Khutbah kedua
الحَمْدُ لِلهِ مُقَدِّرِ الْمَقْدُوْرِ وَمُصَرِّفِ اْلأَيَّامِ وَالشُّهُوْرِ، وَأَحْمَدُهُ عَلَى جَزِيْلِ نِعَمِهِ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الشَّكُوْرُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا إِلَى الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ، أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,.
Adapun dalam menemui bulan Syawal ada di antara kita yang mengalami ujian dari Allah subhanahu wa ta'a. Perlu diketahui, sesungguhnya ujian yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala bukanlah suatu hal yang bisa dihindari. Karena kita wajib mengimani masalah taqdir, yaitu segala sesuatu yang kita alami sudah tercatat oleh Allah di Lauh Mahfudz dan di lembaran-lembaran taqdir yang Allah berika kepada para malaikat yang diutus, baik itu taqdir yang baik atau yang kita rasakan buruk.
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّ
"Kemudian dia bertanya lagi: “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman“. Beliau bersabda: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.”" (HR Muslim)
Ingatlah, bahwa apa yang kita rasakan beban berat ujian ini sebenarnya sangatlah sedikit yang Allah berikan. Sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta'ala firmankan:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ٢:١٥٥
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ٢:١٥٦
أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ ٢:١٥٧
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. [al Baqarah/2:155-157]
Lihatlah yang Allah janjikan. Jika kita bersabar menghadapi ujian Allah maka Allah akan memberikan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari-Nya. Dan kita akan dimasukkan dalam golongan orang yang mendapat petunjuk.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (ali Imraan: 200)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Seorang muslim sejati tidak pernah terlepas dari tiga keadaan yang merupakan tanda kebahagiaan baginya, yaitu bila dia mendapat nikmat maka dia bersyukur, bila mendapat kesusahan maka dia bersabar, dan bila berbuat dosa maka dia beristighfar (Qowa’idul Arba’, hal. 01),
Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Bagaimanapun keadaannya, dia tetap masih bisa meraih pahala yang banyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita jalani bulan syawal ini dengan ibadah dan ketaatan, bukan maksiat dan kesia-siaan. Jika merasa ramadhan kemarin terlalaikan, segeralah beristighfar, mohon ampun dan mohonlah diberi Allah kesempatan untuk bisa bertemu dengan ramadhan berikutnya. Dn janganlah berputus asa dalam mencapai rahmat Allah. segeralah qadha hutang puasa jika memiliki. kerjakan puasa Syawal jika mampu, sebagaimana hadits berikut ini:
Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).
Semoga Allah menerima ibadah kita selama bulan ramadhan kemarin. Jika ada cacat semoga Allah sempurnakan ibadah kita. Jika masih kurang semoga Allah memberikan kita kesempatan memperbaikinya.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ في كُلِّ مَكَانٍ. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْلَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ ... اذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

insya Allah saya sampaikan besok di masjid RS Gatoel Mojokerto.


Minggu, 26 Juni 2016

Ihsan dan tanda kiamat

Ini adalah lanjutan dari pembahasan hadits kedua. Setelah laki-laki itu bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tentang Islam dan Iman, dia melanjutkan dengan bertanya "Jelaskan padaku apa itu ihsan." Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau."

Dalam al Qur'an ayat tentang ini sangat banyak di antaranya sebagaimana yang ditulis Imam Nawawi juga di dalam kitab Riyadhush Shalihin:

Allah Ta'ala berfirman: "Dialah yang melihatmu ketika engkau berdiri dan juga gerak tubuhmu diantara orang-orang yang bersujud." (asy-Syu'ara': 218-219)

Allah Ta'ala berfirman pula: "Dan Dia adalah besertamu di mana saja engkau semua berada." (al-Hadid: 4)

Allah Ta'ala berfirman lagi: "Sesungguhnya bagi Allah tidak ada sesuatu yang tersembunyi baik di bumi ataupun di langit."(Ali-Imran: 5)

Lagi firmannya Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi." (al-Fajar: 14)

Juga firmannya Allah Ta'ala: "Dia Maha Mengetahui akan kekhianatan mata -maksudnya pandangan mata kepada sesuatu yang dilarang atau kerlingan mata sebagai ejekan dan lain-lain perbuatan yang tidak baik- dan apa saja yang tersembunyi dalam hati." (al-Mu'min: 19)

Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata: “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda: “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?” Aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengkhabarkan dua tanda-tanda kiamat di antara tanda-tanda lainnya. Dua tanda itu yang pertama adalah "Jika seorang hamba melahirkan tuannya". Dalam bahasan ini para 'ulama menjelaskan bahwa tanda kiamat adalah maraknya anak yang durhaka kepada orang tuanya ('uququl walidain). Ada jga yang menjelaskan maknanya banyaknya budak yang dimiliki muslim karena hasil peperangan, yang budak itu melahirkan generasi muslim yang menjadi tuan mereka. Sehingga syaikh Utsaimin menjelaskan dalam syarah kitab ini bahwa nanti sampai kiamat perbudakan sesuai syariat Islam masih berlaku dan akan terjadi bayak peperangan antara negara Islam dan kafir yang dimenangkan kaum muslimin.

Tanda kedua kiamat dalam hadits ini adalah "dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya". Yang menunjukkan banyaknya orang miskin jadi kaya. Kita lihat Dubai dahulu negara miskin, sekarang menjadi negara kaya raya. Para penggembala kambing itu banyak yang jadi raja minyak dan orang kaya. Syaikh Utsaimin rahimahullah juga menafsirkannya dengan banyaknya orang bodoh jadi pemimpin yang hanya mengutamakan duniawiyah. wallahu a'lam.

Hdadits ini ditutup dengan perkataan Umar radhiyallahu 'anhu bahwa setelah kejadian itu berlalu sekitar tiga hari atau selang waktu lama, beliau bertemu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan beliau menanyakan kepada Umar siapa orang yang bertanya waktu itu. Dengan kejujuran Umar menyatakan “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.

selesai pembahasan hadits kedua

Disampaikan di masjid al Basith Puri, 27 Juni 2016, ba'da shubuh.


Iman

Setelah lelaki itu bertanya tentang Islam lalu dijawab Nabi shallallah 'alaihi wa sallam, dia melajutkan bertanya tentang iman. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawabnya bahwa iman itu:

"Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk."

Iman kepada Allah itu meliputi beriman kepada wujud Allah. Dengan beriman dengan wujud Allah meyakini bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Sempurna yang memiliki wujud yang tidak ada serupa dengan-Nya. Lalu beriman kepada rububiyah Allah, yang mana Allah-lah Dzat yang menciptakan dunia dan seisinya, Allah-lah yang menciptakan manusia dan makhluk lainnya, Allah-lah yang memberikan rizqi pada semua makhluk-Nya. Dua keimanan di atas tetapi belum memasukkan seseorang dalam kaum beriman. Dua keimanan itu adalah keimanan fitrah manusia. Sehingga jika manusia kehilangan kedua iman itu maa dia kehilangan fitrah manusiawinya. Berikut ini lanjutan konsekuensi beriman kepada Allah yang membuat manusia menjadi golongan beriman, yaitu beriman kepada uluhiyah Allah, bahwa Allah-lah Dzat yang haq disembah tidak ada selain-Nya. Dengan beriman ini manusia baru disebut beriman. menjadi ahli Tauhid yang merupakan pemeluk Islam yang sejati. Lalu dilanjutkan, beriman kepada asma wa shifat Allah, yaitu beriman bahwa Allah memiliki nama-nama baik dan sifat-sifat agung dan sempurna yang tidak ada menyerupai-Nya. Dengan mengumpulkan empat konsekuensi ini maka seseorang itu telah sempurna imannya kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Iman kepada malaikat, yaitu beriman dengan keberadaan malaikat. Beriman secara rinci nama-nama malaikat yang disebutkan dan yang tidak disebutkan dalam Al Qur'an dan As Sunnah. Juga beriman pada sifat-sifat malaikat yang diketahui atau yang tidak. Serta beriman pada tugas-tugas malaikat.

Iman kepada kitab Allah, bahwa seluruh kitab agama Islam berasal dari Allah semata. Mengimani kitab Allah yang disebutkan dan yang tidak disebutkan. Membenarkan berita dalam kitab-kitab Allah selama belum dihapus atau dirubah manusia,

Iman kepada Rasul Allah, bahwa seluruh risalah Rasul dari Allah. Jumlah Nabi 124.000 dan jumlah Rasul 315 (HR Ahmad) atau 312 (HR Tirmidzi). Membenarkan berita shahih dari mereka. Beramal dengan syariat rsul yang datang kepada kita yaitu Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Iman kepada hari akhir, yaitu beriman kepada semua kejadian mulai dari alam qubur, hari kebangkitan, hari kiamat, hari dikumpulkan, surga dan neraka dan semua kejadian yang akan terjadi kelak.

Iman kepada taqdir, mengimani bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang terjadi. Segala yang terjadi telah ditulis Allah di Lauh Mahfudz. Semua terjadi atas kehendak Allah. Hakekatnya semua taqdir baik, akan tetapi respon manusia yang membuat taqdir itu jadi baik dan buruk.

Disampaikan di masjid al Basith Puri, ahad 19 Juni 2016, ba'da shubuh.

Sabtu, 11 Juni 2016

Hadits Arba'in No. 2 Islam Iman dan Ihsan

HADITS KEDUA
Islam, Iman dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .

[رواه مسلم]



Arti hadits / ترجمة الحديث :

Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“. Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata: “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda: “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.
(Riwayat Muslim)

Penjelasan Ringkas:
 "Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari" menunjukkan betapa tawadlu'nya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang terbiasa duduk-duduk denganpara shahabat. "... seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya" dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin rahimahullahu ta'ala bahwa lelaki itu usianya masih muda, bajunya sangat putih menunjukkan bukan dalam kondisi safar, tetapi di Madinah tidak ada seorang pun yang mengenalnya. (Kitab Syarah Arba'in Nawawi)

Lalu laki-laki itu mendekat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan menyebut "Yaa Muhammad.." menunjukkan akrabnya laki-laki itu dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Dia menanyakan tentang Islam. Islam adalah satu-satunya agama yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran: 19).

Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab Islam itu:
1. Bersaksi tidak ada yang patut disembah kecuali Allah semata, dan Muhammad adalah Rasulullah (utusan Allah). Persaksian ini tidak dapat dipisah. Persaksian ini menyatakan tauhid dalam beribadah hanya kepada Allah semata dan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
2. Mendirikan shalat. Shalat fardhu adalah membedakan antara seorang yang muslim dan kafir. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam artinya:
 
“Sesungguhnya ( batas pemisah ) antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” ( HR. Muslim, dalam kitab al iman ).

3. Membayar zakat. Zakat ini adalah termasuk 3 amalan dasar dalam Islam, jika seseorang tidak mau berzakat padahal dia mampu maka bisa diperangi. Allah Ta'ala mensyari'atkan kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam untuk memerangi manusia yang tidak melaksanakan shalat dan mengeluarkan zakat.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكاَةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءُهُمْ وَأَمْوَالُـهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالىَ [رواه البخاري ومسلم ]

Dari Ibnu 'Umar radhiallahu 'anhuma, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah, menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat. Barangsiapa telah mengucapkannya, maka ia telah memelihara harta dan jiwanya dari aku kecuali karena alasan yang hak dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah ta'ala".
(HR. Bukhari dan Muslim).
 
Tatkala Rasulullah wafat dan Abu Bakar Ash Shiddiq diangkat sebagai khalifah untuk menggantikannya, sebagian dari orang Arab menjadi kafir. Abu Bakar bertekad untuk memerangi mereka sekalipun di antara mereka ada yang tidak kafir tetapi menolak membayar zakat. Abu Bakar lalu mengemukakan alasan perbuatannya itu, tetapi 'Umar berkata kepadanya : "Bagaimana engkau akan memerangi manusia sedangkan mereka mengucapakan laa ilaaha illallaah dan Rasulullah bersabda : "Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah ... dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah Ta'ala". Abu Bakar lalu menjawab : "Sesungguhnya zakat itu adalah kewajiban yang bersifat kebendaan". Lalu katanya : "Demi Allah, kalau mereka merintangiku untuk mengambil seutas tali unta yang mereka dahulu serahkan sebagai zakat kepada Rasulullah, niscaya aku perangi mereka karena penolakannya itu". Maka kemudian Umar mengikuti jejak Abu Bakar untuk memerangi kaum tersebut. 

4. Puasa Ramadhan. Dalam bulan Ramadhan terkumpul banyak amalan seperti puasa, shalat, zakat, sedekah , membaca al Qur'an dan amal lainnya yang dilipatgandakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

5. Haji ke baitullah jika mampu.

Dari kelima rukun Islam di atas urutan yang tidak berubah adalah 1, 2, dan 3, sedangkan yang 4 dan 5 bisa ditukar. Sebagaimana hadits ketiga yang insyaAllah akan kita bahas berikutnya. Itu karena urutan 1-3 wajib dikerjakan, untuk zakat bagi yang mampu wajib. Sedangkan untuk puasa dan haji banyak rukhshah di dalamnya. Puasa jika tidak mampu bisa diqadla di lain hari atau membayar fidyah, insyaAllah akan dibahas rinci di bahasan berikutnya. Sedangkan haji tidak hanya harta sebagai syaratnya, walaupun memiliki harta untuk berhaji tetapi secara fisik tidak mampu maka tidak dibebankan kewajiban untuk menjalankannya.

InsyaAllah untuk iman dan ihsan akan dibahas pada ahad depan.

(Disampaikan di Masjid Al Basith Puri Mojokerto, 12 Juni 2016 ba'da shubuh)

Hadits Arba'in No 1 Keutamaan Niat

HADITS PERTAMA
Ikhlas

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]

Arti Hadits / ترجمة الحديث :

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khaththab radiallahu 'anhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .



Penjelasan singkat:
Beliau adalah Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin Adi bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Lu’ai, Abu Hafs al-’Adawi. Julukan beliau adalah al-Faruq. Ada yang menyebutkan bahwa gelar itu berasal dari Ahli Kitab.
Adapun ibunya bernama Hantamah binti Hisyam bin al-Mughirah, kakak dari Abu Jahal bin Hisyam.

Niat ini letaknya di awal atau sebelum beramal.  Niat membedakan antara amalan biasa dengan amalan ibadah. Niat juga membedakan amalan wajib atau sunnah. Niat menentukan akhir dari amalan seseorang. Amalannya diterima oleh Allah atau tidak tergantung niatnya.

Niat ikhlash dalam beribadah maksudnya adalah amalan itu dikerjakan karena Allah dan hanya untuk Allah semata. Akan tetapi niat ikhlash juga dibarengi dengan ittiba' yaitu mencontoh amalan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Adapun penjelasan ittiba' ini insyaAllah akan dijelaskan di hadits-hadits berikutnya.

"Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya." dalam kalimat ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengulang Allah dan Rasul-Nya menunjukkan mulianya niat yang ikhlash karena Allah yang dilakukan sesuai dengan petunjuk Rasul-Nya. Sedangkan ketika menyebutkan amalan yang niatnya karena dunia atau wanita yang dinikahi beliau tidak mengulangnya menunjukkan hinanya amalan dengan niat seperti itu.

Sehubungan dengan besok (6 Juni 2016) insyaAllah kita mulai puasa Ramadhan, marilah kita murnikan niat puasa hanya untuk Allah subhanahu wa ta'ala, bukan untuk diet atau supaya sehat. Niat puasa karena Allah, perkara sakit atau sehat itu urusan Allah subhanahu wa ta'ala.

(Disampaikan di Masjid al Basith Puri Mojokerto, 5 Juni 2016)

Minggu, 04 Oktober 2015

Wahai Ummat Nasrani, Taatilah yang Diperintah Allah dalam Injil kalian

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman artinya:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ” [Al Baqarah 120]

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bernubuat akan ummat beliau. Dari Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata: “Rasululah bersabda: ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk ke dalamnya.’ Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nasrani?’ Sabda beliau: “Siapa lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam kitab Al-Musnad  dan Sunan at-Tirmidzi, sebagaimana dijelaskan bahwa Adi Bin Hatim berkata,"Ya Rasulullah, mereka tidak menyembah para pendeta dan Rahib", maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam menjawab :

"Tidak, bahkan mereka (para pendeta dan Rahib itu) menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal bagi mereka, lalu mereka pun mengikutinya. Maka yang demikian itulah penyembahan mereka terhadap para pendeta dan rahib mereka"

Mari kita buktikan bagaimana ummat Nasrani lebih mengikuti ajaran pendeta atau adat mereka daripada apa yang disampaikan Yesus 'alaihi salam dalam injil mereka. Kutipan yang akan saya tulis sesuai yg tertulis dalam injil online tanpa merubah huruf satu pun, termasuk besar kecilnya.

Injil melarang khamr (minuman memabukkan) tapi orang Nasrani meminumnya.
"Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh." (Efesus, 5: 11)
"Anggur adalah pencemooh, minuman keras adalah peribut, tidaklah bijak orang yang terhuyung-huyung karenanya." (Amsal, 20: 1)

Injil mengharamkan babi, tapi orang Nasrani memakannya.
"Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu." (Imamat, 11: 7-8)
Dijelaskan mereka sendiri:
"Jangan makan babi. Binatang itu haram, karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak memamah biak." (Idem)
Dalam injil bahasa inggrisnya untuk babi menggunakan kata "swine" yang mana pemilihan kata ini adalah untuk menghinakan padahal ada kata "pig" atau "pork" yg lebih sopan.

Injil mengharamkan berhala (patung) disembah, tapi orang Nasrani membuat patung yg mereka sembah dalam ibadah.
Di mana ketika dijelaskan suatu daerah yg dihinakan Allah, disebutkan:
"Negerinya penuh berhala-berhala; mereka sujud menyembah kepada buatan tangannya sendiri dan kepada yang dikerjakan oleh tangannya." (Yesaya, 65: 2-5)

Injil melarang wanita memakai baju lelaki atau sebaliknya, tapi kita tahu sendiri bagaimana pakaian orang Nasrani.
"Seorang perempuan janganlah memakai pakaian laki-laki dan seorang laki-laki janganlah mengenakan pakaian perempuan, sebab setiap orang yang melakukan hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu." (Ulangan, 22: 5)

Injil menyuruh wanita berhijab, tapi berapa orang Nasrani yang berhijab?
"Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau melindungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, maka rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya." (Korintus, 11: 5-6)

Yesus 'alaihissalam mengabarkan akan ada yang menyempurnakan agama Allah. Tapi orang Nasrani tidak mengakuinya.
"Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia telah datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi dengan segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku." (Yohanes, 16: 12-14)
Sungguh siapa lagi yang dimaksud kecuali Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang memuliakan Yesus (Nabi Isa) 'alaihis salam. Dan ayat di atas disempurnakan oleh Allah dalam al Qur'an, yang artinya:
"Demi bintang tatkala terbenam.
Tidaklah sesat kawanmu (Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) dan tidaklah dia keliru. Dan tidaklah mengucapkannya menurut hawa nafsunya. Tidaklah ia itu melainkan wahyu yang diwahyukan." (QS An Najm: 1-4)

Dalam hadits shahih telah ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, beliau bersabda:”Sesungguhnya, orang yang paling dekat masanya dengan Ibnu Marayam (‘Isa) adalah aku). Dan para Nabi adalah anak-anak ‘Alaat. Tidak ada seorang Nabi pun antara dirinya dengan diriku”
Diriwayatkan pula oleh jam’ah selain at-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.


Yesus 'alaihis salam bukanlah Tuhan. Tuhan tahu segalanya, buktinya Yesus tidak tahu kapan kiamat. Tapi orang Nasrani menyembahnya.
Ketika ditanya muridnya kapan kiamat, Yesus hanya memberikan tanda-tandanya dan dia menegaskan: "Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja." (Markus, 13: 32)

Dari apa yang sudah terjadi dari kaum Nasrani, janganlah kita seperti mereka yang lebih memilih perkataan ustadz atau kyainya padahal bertentangan dengan Al Qur'an dan Al Hadits. Semoga kita diberi hidayah selalu dalam kebenaran. Aamiin.

Kamis, 10 September 2009

Kisah Tiga Orang dalam Goa

Dari Abu Abdur Rahman, Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiallahu 'anhuma, katanya: Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Ada tiga orang dari golongan orang-orang sebelummu sama berangkat berpergian, sehingga terpaksalah untuk menempati sebuah gua guna bermalam, kemudian merekapun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu atas mereka. Mereka berkata bahawasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan engkau semua dari batu besar ini melainkan jikalau engkau semua berdoa kepada Allah Ta'ala dengan menyebutkan perbuatanmu yang baik-baik.

Seorang dari mereka itu berkata: "Ya Allah. Saya mempunyai dua orang tua yang sudah tua-tua serta lanjut usianya dan saya tidak pernah memberi minum kepada siapapun sebelum keduanya itu, baik kepada keluarga ataupun hamba sahaya. Kemudian pada suatu hari amat jauhlah saya mencari kayu - yang dimaksud daun-daunan untuk makanan ternak. Saya belum lagi pulang pada kedua orang tua itu sampai mereka tertidur. Selanjutnya saya pun terus memerah minuman untuk keduanya itu dan keduanya saya temui telah tidur. Saya enggan untuk membangunkan mereka ataupun memberikan minuman kepada seseorang sebelum keduanya, baik pada keluarga atau hamba sahaya. Seterusnya saya tetap dalam keadaan menantikan bangun mereka itu terus-menerus dan gelas itu tetap pula di tangan saya, sehingga fajarpun menyingsinglah, Anak-anak kecil sama menangis kerana kelaparan dan mereka ini ada di dekat kedua kaki saya. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka minum minumannya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan keredhaanMu, maka lapanglah kesukaran yang sedang kita hadapi dari batu besar yang menutup ini." Batu besar itu tiba-tiba membuka sedikit, tetapi mereka belum lagi dapat keluar dari gua.

Yang lain berkata: "Ya Allah, sesungguhnya saya mempunyai seorang anak bapa saudara yang wanita - jadi sepupu wanita - yang merupakan orang yang tercinta bagiku dari sekalian manusia - dalam sebuah riwayat disebutkan: Saya mencintainya sebagai kecintaan orang-orang lelaki yang amat sangat kepada wanita - kemudian saya menginginkan dirinya, tetapi ia menolak kehendakku itu, sehingga pada suatu tahun ia memperolehi kesukaran. lapun mendatangi tempatku, lalu saya memberikan seratus dua puluh dinar padanya dengan syarat ia suka menyendiri antara tubuhnya dan antara tubuhku -maksudnya suka dikumpuli dalam seketiduran. Ia berjanji sedemikian itu. Setelah saya dapat menguasai dirinya - dalam sebuah riwayat lain disebutkan: Setelah saya dapat duduk di antara kedua kakinya - sepupuku itu lalu berkata: "Takutlah engkau pada Allah dan jangan membuka cincin - maksudnya cincin di sini adalah kemaluan, maka maksudnya ialah jangan melenyapkan kegadisanku ini - melainkan dengan haknya - yakni dengan perkahwinan yang sah -, lalu saya pun meninggalkannya, sedangkan ia adalah yang amat tercinta bagiku dari seluruh manusia dan emas yang saya berikan itu saya biarkan dimilikinya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian dengan niat untuk mengharapkan keredhaanMu, maka lapangkanlah kesukaran yang sedang kita hadapi ini." Batu besar itu kemudian membuka lagi, hanya saja mereka masih juga belum dapat keluar dari dalamnya.

Orang yang ketiga lalu berkata: "Ya Allah, saya mengupah beberapa kaum buruh dan semuanya telah kuberikan upahnya masing-masing, kecuali seorang lelaki. Ia meninggalkan upahnya dan terus pergi. Upahnya itu saya perkembangkan sehingga bertambah banyaklah hartanya tadi. Sesudah beberapa waktu, pada suatu hari ia mendatangi saya, kemudian berkata: Hai hamba Allah, tunaikanlah sekarang upahku yang dulu itu. Saya berkata: Semua yang engkau lihat ini adalah berasal dari hasil upahmu itu, baik yang berupa unta, lembu dan kambing dan juga hamba sahaya. Ia berkata: Hai hamba Allah, janganlah engkau memperolok-olokkan aku. Saya menjawab: Saya tidak memperolok-olokkan engkau. Kemudian orang itu pun mengambil segala yang dimilikinya. Semua digiring dan tidak seekorpun yang ditinggalkan. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian ini dengan niat mengharapkan keredhaanMu, maka lapangkanlah kita dari kesukaran yang sedang kita hadapi ini." Batu besar itu lalu membuka lagi dan mereka pun keluar dari gua itu. (Muttafaq 'alaih)

Dari Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An Nawawi hadits no 12 hal 9.