Blog tentang mempelajari sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang mulai banyak ditinggalkan oleh ummat Islam. Hidup ini cuman sekali, ayo perbaiki diri dengan sunnah nabi.
Selasa, 12 Juli 2016
HADITS KEEMPAT Nasib Manusia Telah Ditetapkan (Plus kisah duel Khalid vs Gregorius)
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا
[رواه البخاري ومسلم]
Terjemah Hadits / ترجمة الحديث :
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.
(Riwayat Bukhori dan Muslim)
Hadits ini dimulai oleh Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu dengan mengatakan "beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan" salah satu kemungkinannya adalah berita yang akan disampaikan belum bisa terbukti di jaman itu. Hal yang akan disampaikan baru terbukti 14 abad kemudian di jaman teknologi sudah canggih dan fakta ilmu kedokteran jauh lebih canggih. Ilmu yang beliau sampaikan adalah proses penciptaan manusia.
Diawali dengan berita dikumpulkannya mani (nutfah) dalam perut/kandungan ibu selama 40 hari. Lalu menjadi 'alaqah (segumpal darah) selama 40 hari juga. Penggunaan kata 'alaqah cukup menarik, karena kata ini sama dengan kata lintah dalam bahasa Arab. Dan secara ilmu kedokteran bentuk dan ukuran 'alaqah (segumpal darah) sama persis dengan lintah. Lalu menjadi mudhghoh (daging) selama 40 hari juga. Jadi total usia bakal janin manusia 120 hari sebelum ditiupkannya ruh.
Setelah sempurna 120 hari Allah mengirimkan seorang malaikat untuk meniupkan ruh. Bagaimana cara meniup dan bagaimana ruh itu tidak perlu diperdalam pembahasannya, karena ruh adalah urusan Allah azza wa jalla yang kita hanya diberi sedikit ilmu tentangnya. Sebagaimana firman Allah berikut ini:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakan: Roh itu dari perkara urusan Tuhanku dan kamu tidak diberikan ilmu pengetahuan melainkan sedikit sahaja.” [al-Israa’ : 85]
Dalam penciptaan manusia Allah mengirim seorang malaikat untuk meniupkan ruh. Ketika manusia meninggal Allah mengirim dua malaikat, yang satu menarik ruh dan yang satu menadahi ruh itu. Dan malaikat maut punya banyak rekan yang ditugaskan membantu dlam mencabut nyawa. Sebagaimana penjelasan berikut:
"Dalam al-Quran, Allah menjelaskan bahwa malaikat maut memiliki banyak rekan di kalangan malaikat ketika mematikan para hamba Allah.
وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لا يُفَرِّطُونَ
Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat- Malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. (QS. Al-An’am: 61)
Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa makna ’ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami adalah bahwa ada banyak malaikat yang ditugaskan untuk mewafatkan.
Kemudian al-Hafidz Ibnu Katsir membawakan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
قال ابن عباس وغير واحد: لملك الموت أعوان من الملائكة، يخرجون الروح من الجسد، فيقبضها ملك الموت إذا انتهت إلى الحلقوم
Ibnu Abbas dan ulama lainnya mengatakan, ”Malaikat maut memiliki beberapa teman di kalangan malaikat. Mereka mengeluarkan ruh dari jasad. Hingga ketika ruh sudah mencapai tenggorokan, malakul maut yang mencabutnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/267).
Dalil lain yang menunjukkan bahwa malakul maut (malaikat pencabut nyawa) ditemani banyak malaikat ketika mematikan manusia, adalah hadis dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنْ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنْ الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مَلَائِكَةٌ مِنْ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الشَّمْسُ مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ السَّلَام حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ
"Sesungguhnya hamba yang beriman ketika hendak meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turunlah malaikat dari langit, wajahnya putih, wajahnya seperti matahari. Mereka membawa kafan dari surga dan hanuth (minyak wangi) dari surga. Merekapun duduk di sekitar mayit sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut ‘alaihis salam. Dia duduk di samping kepalanya." (HR. Ahmad 18543, Abu Daud 4753, dishahihkan Syuaib al-Arnauth dan al-Albani)
Sumber: https://konsultasisyariah.com/22748-bagaimana-malaikat-maut-mencabut-ratusan-nyawa-dalam-satu-waktu.html"
Kembali ke pembahasan setelah malaikat meniupkan ruh, dia diperintahkan Allah "menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya". Dengan mengetahui ini cukuplah manusia zuhud terhadap dunia yang fana ini. Karena perkara kehidupannya di dunia sudah ditentukan. Akan tetapi manusia memiliki kehendak untuk menentukan pilihan. Seperti memilih kehidupan dunia atau akhirat. Sebagaimana firman Allah azza wa jalla:
مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الآخِرَةَ
"Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada pula orang yang menghendaki akhirat" (QS Ali Imran: 152)
Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melanjutkan bersabda, "Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka." Dengan beliau bersumpah menunjukkan hal yang akan beliau sampaikan adalah hal yang amat penting. Di saat manusia mulai yang kafir sampai yang mukmin mengakui bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah AL AMIN, yaitu orang yang jujur tidak pernah bohong sekalipun, masih bersumpah untuk menyampaikan hal yang akan beliau terangkan. Amalan baik bukanlah hal yang patut dibanggakan. Dan bukanlah hal yang patut dijadikan sandaran apalagi keyakinan bahwa amalannya diterima Allah subhanahu wa ta'ala sehingga membuat seseorang khusnul khatimah. TIDAK semudah itu. Karena selamat dan celakanya seseorang dilihat akhir amalnya. Di saat surga hanya berjarak sehasta (sekitar 45cm), tapi dia didahului ketetapan Allah azza wa jalla membuatnya masuk neraka.
Tercatat dalam sejarah Islam beberapa kisah mereka yang su'ul khatimah padahal kemuliaan Islam sudah sempat mereka rengkuh. Ubaidullah bin Jahsy, suami dari Ummu Habibah (nantinya jadi isteri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam), seorang Nasrani mendapat seberkas cahaya hidayah akhirnya masuk Islam. Cobaan berat awal mereka masuk Islam membuat mereka berhijrah ke Habasyah. Ketika di Habasyah cobaan keimanan melanda. Ubaidullah berbincang dengan isterinya bahwa hatinya terpanggil kembali memeluk agama Nasrani. Isterinya mengingatkan dengan penuh kelembutan bahwa jangan sampai membuang hidayah Islam yang sudah dia dapatkan. Ubaidullah tidak bia bertahan. Kembalilah ia memeluk agama Nasrani. Para shahabat yang lainnya sangat menyayangkan langkahnya.Setelah memeluk Nasrani kembali, hari-harinya dipenuhi dengan minum khamr sampai ajal menjemputnya dalam keadaan habis menenggak khamr.
Di jaman pemerintahan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu cahaya Islam meluas melintasi langit dataran Arab. Tatkala penyerbuan ke benteng Romawi tercatatlah kisah buruk kehidupan seorang pengahafal Qur'an yang juga seorang tabi'in. Dalam peperangan terdapat Abdah bin Abdurrahim, dengan menyabetkan pedangnya ke sana ke mari dalam kancah pertempuran dalam perebutan Romawi dia sudah mengirimkan banyak pasukan kafir untuk terjerembab masuk neraka. Kemalangannya dimulai tatkala dia melihat sosok wanita cantik rupawan di balik benteng kokoh Kaisar Romawi. Kecantikan wanita itu menusuk hatinya dan membuatnya mengirim surat kepadanya dan menyatakan ingin merasakan kelembutan dan kasih sayang wanita pujaannya. Gayung bersambut, Abdah menerima balasan suratnya, tapi jawabannya "Kamu masuk ke dalam agama Nashrani lalu kamu naik menemuiku”.
Syahwat dan birahi Abdah telah menutup akal sehatnya. Tidak lama untuknya memutuskan membuang hidayah Islam dan menyatakan memeluk agama Nasrani. Seorang prajurit penghafal Qur'an membuang imannya begitu saja hanya untuk menikmati kecantikan seorang wanita. Menikahlah dia di dalam benteng. Kaum muslimin yang menyaksikan ini sangat terguncang. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa seorang hafidz yang hatinya dipenuhi Al-Qur’an meninggalkan Allah.
Ketika dibujuk untuk taubat ia tak bisa. Ketika ditanyakan kepadanya, “Dimana Al Quran mu yang dulu???”
Ia menjawab, “Aku telah lupa semua isi Al Quran kecuali dua ayat saja yaitu :
رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ
“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.”
ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖفَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (QS. Al Hijr: 2-3).
Seolah ayat ini adalah hujjah untuk dirinya, kutukan sekaligus peringatan Allah yang terakhir namun tak digubrisnya. Dan ia bahagia hidup berlimpah harta dan keturunan bersama kaum Nasrani. Dalam keadaan seperti itulah hingga ajal menjemputnya. Mati dalam keadaan di luar agama Islam.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian melanjutkan, "Dan sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga." Dalam menjelaskan hadits ini saya bawakan kisah mulia seorang shahabat yang syahid padahal belum pernah shalat dan seorang panglima perang Romawi yang menerima hidayah iman melintasi baju besinya.
Kisah Ushairim bani Abdul Asyhal, yaitu Amr bin Tsabit al Waqsy, adalah salah satu kisah mulia perjalanan anak manusia menjemput panggilan Tuhannya. Panggilan hatinya untuk memeluk agama Islam tidak terbendung ketika akan pecah perang Uhud. Dia memacu kudanya dan sembunyi-sembunyi menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dari pihak kafir maupun muslim tidak banyak yang tahu keislamannya. Sampai setelah perang Uhud reda, tatkala para shahabat mengorek tumpukan mayat para syuhada mereka menemukan sesosok Amr yang tubuhnya penuh luka tusukan meregang nyawa.
Mereka berkata, “Demi Allah! Sesungguhnya lelaki ini adalah Ushairim. Apakah yang menyebabkan ia datang kemari? Kami telah meninggalkannya dan ia tidak mau memeluk Islam.”
Mereka pun menanyakan kepada Ushairim mengenai dininya, “Apakah yang menyebabkan engkau kemari, hai Amr? Apakah karena kasihan terhadap kaummu atau karena rasa cintamu kepada Islam?”.
Jawab Ushairim, “Kareña rasa cinta kepada Islam. Aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan aku telah memeluk Islam. Lalu aku mengambil pedangku dan berangkat menyertai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Selanjutnya aku berperang hingga terjadi keadaan seperti ini.”
Tidak lama. kemudian, ia pun meninggal dunia di pangkuan mereka. Kemudian mereka menceritakan apa yang telah terjadi kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan beliau menjawab, “Sesungguhnya Ia adalah dari kalangan ahli Jannah.” (Demikian tercantum dalam kitab al Bidayah (4/37)) Dan Amr adalah shahabat yang belum pernah shalat tapi masuk surga.
Berikutnya kisah yang tak kalah serunya. Bagaimana seorang panglima perang Romawi memeluk Islam hanya dengan percakapan singkat dari Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu. Dia adalah Gregorius Theodorus, seorang panglima perang Romawi yang sangat mencintai kaumnya. Sehingga ketika istirahat, Gregorius memacu kudanya ke tengah medan perang Yarmuk. Dipanggilnya panglima "pedang Allah" Khalid bin Walid, seorang panglima perang yang tidak pernah kalah dalam pertempuran baik ketika masih kafir ataupun sesudah beriman. Saat itu pasukan kafir Romawi berjumlah 240.000 personel sedangkan pihak muslim hanya 40.000 pasukan.
Panggilan duel disambut Khalid dengan memacu kudanya ke arah panglima yang diandalkan pihak lawan. Ribuan pasukan yang sedang istirahat pun melihat pertemuan kedua panglima dari masing-masing pihak. Pihak Romawi merasa unggul dengan turunnya Gregorius, diharapkan duel ini bisa menjatuhkan mental tentara muslim setelah sesi perang sebelumnya dimenangkan pihak muslim. Pihak pasukan muslim tidak kalah bersemangatnya melihat Khalid di atas kudanya dengan debu padang pasir mengiringi laju kudanya. Ketika bertemu di tengah-tengah mereka turun dari kuda mereka dan siap duel.
Duel berlangsung dengan sengitnya, tombak besi Gregorius berputar dan menusuk ke titik yang mematikan. Khalid tak kalah sigapnya menghindari ujung tombak dengan meliuk, berputar dan menebaskan pedangnya. Pertarungan satu lawan satu itu terjadi, disaksikan oleh kubu kedua belah pihak. Dalam duel maut itu, tombak Gregorius patah terkena sabetan pedang Khalid. Luar biasa, rasa takjub begitu saja muncul di benak Gregorius, betapa tidak! Tombak bergagang baja itu rontok oleh sabetan pedang Khalid, padahal sepanjang pertempuran yang dipimpinnya tombak itu menjadi tumpuan pertahanan dirinya. Kepiawaian Khalid memainkan pedangkah? Tenaganya yang kuatkah? Atau memang benar pedangnya diturunkan dari langit? Rasa penasaran panglima Romawi ini makin menjadi-jadi. Dia seperti baru menemukan lawan tanding yang setimpal.
Pedang besar Gregorius dikeluarkan untuk menghadapi Khalid. Namun, Gregorius merasa Khalid selalu memberinya kesempatan untuk mengelak. Untuk kedua kalinya Gregorius merasa kagum kan sikap patriot Khalid yang saat itu sebenarnya sudah menang. Khalid bisa saja melibas lawannya saat itu yang sedang lemah. Tapi kegarangan Khalid di medan perang tidak menutupi kelembutan sikap ksatrianya.
Ketika kedua pedang mereka bertemu dan saling menekan, Gregorius pun bertanya kepada lawan tandingnya dan terjadilah percakapan yang tercatat dengan tinta emas dalam sejarah dunia.
"Ya Khalid, coba katakan dengan sebenar-benarnya dan jangan bohongi saya. Apakah benar Allah telah turun kepada Nabi anda dengan membawa pedang dari langit, lalu menyerahkannya kepada anda, sehingga anda memperoleh julukan "Pedang Allah"? Saya tahu setiap anda mencabut pedang itu, maka tidak ada lawan yang tidak tunduk!"
"Semua itu tidak benar!" tukas Khalid dengan singkat seraya tetap mempermainkan pedangnya untuk menangkis serangan pedang panglima Gregorius.
"Lantas mengapa anda dijuluki Pedang Allah?" tanya Gregorius lagi.
Dan bagaikan tumbuh saling pengertian, keduanya kemudian menghentikan ayunan pedang. Keduanya tegak berhadapan di tengah laga, masih tetap bersiaga, dan meneruskan dialog. "Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia mengutus seorang Nabi kepada kami. Semula kami menentangnya dan memusuhinya. Sebagian dari kami beriman dan mengikutinya. Saya termasuk pihak yang mendustainya dan memusuhinya, tetapi kemudian Allah menurunkan hidayah ke dalam hatiku. Sayapun beriman dan menjadi pengikutnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadaku: 'Ya Khalid, engkau adalah sebuah pedang di antara sekian banyak pedang Allah yang terhunus untuk menghadapi kaum musyrikin!' Ia mendoakan saya supaya tetap menang. Sebab itulah aku dijuluki 'Pedang Allah' ..." Khalid menuturkan apa adanya.
"Saya menerima keterangan anda itu dan tidak lagi percaya dengan segala legenda tentang diri anda," ujar Gregorius yang kemudian meneruskan pertanyaannya. "Di dalam tugas dakwah anda, apa sajakah yang anda sampaikan?"
"Mengakui bahwa tiada yang patut disembah selain Allah, dan mengakui bahwa Muhammad itu Rasul Allah, dan berikrar dalam hati bahwa ajarannya itu datang dari Allah."
"Jika seseorang tidak bersedia menerimanya?"
"Membayar jizyah, mengakui kepemimpinan Islam, dan setelah itu kami berkewajiban menjamin hak miliknya, jiwanya dan juga kepercayaan, keyakinan, agama yang dianutnya!"
"Jika ia tetap tidak mau menerimanya?"
"Pilihan akhir adalah perang, dan kami siap untuk itu!" jawab Khalid singkat-singkat, jelas dan tegas.
Sementara di kedua kubu pasukan yang masih bertanya-tanya tentang apa yang tengah terjadi di dalam perang tanding itu, panglima Gregorius meneruskan lagi dialognya, "Bagaimanakah kedudukan seseorang yang menerima Islam pada pilihan pertama pada hari ini?"
"Kedudukan dan derajat bagi kami hanya satu di antara dua, yaitu apa yang ditetapkan oleh Allah. Mulia atau hina. Tak peduli ia menerima Islam lebih dulu atau belakangan!"
"Jadi, orang yang menerima Islam pada hari ini, ya Khalid, apakah sama kedudukannya dengan yang lain dalam segala hal?" "Ya, Anda benar!" "Mengapa bisa sama ya Khalid? Padahal anda sudah lebih dulu Islam dari padanya?"
"Kami memeluk Islam dan mengikat bai'at dengan Rasul Muhammad 'alaihi wa sallam. Ia hidup bersama kami, dan kami menyaksikan kebesaran dan mu'jizat-mu'jizatnya, hingga beliau wafat. Sedangkan orang yang menerima Islam pada hari ini, tidak pernah berjumpa dengan beliau dan tidak pernah menyaksikan semua itu. Jika orang itu menerima Islam dan menerima kerasulan Muhammad dan pembenarannya itu jujur serta ikhlas, maka sesungguhnya ia jauh lebih mulia dari pada kami!"
"Ya Khalid, keterangan anda sangat benar! Anda tidak menipu, tidak berlebih-lebihan dan tidak membujuk. Demi Allah, saya menerima Islam pada pilihan pertama!"
Pembicaraan itu disaksikan ratusan ribu pasukan Muslim dan Romawi. Pasukan Romawi terkejut dan panik, dan serunai perang pun ditiup guna mempersiapkan serangan besar-besaran terhadap pertahanan umat Islam. Sementara Panglima Gregorius bersyahadat dan minta pengajaran Islam di dalam kemah Khalid. Setelah itu Khalid memerintahkan shahabat barunya, Gregorius, untuk mandi sebagai amalan setelah bersyahadat. Untuk pertama kalinya ia melaksanakan sendi ajaran Islam yang kedua, shalat dua rakaat!
Pertempuran terus berkecamuk, berlangsung dua hari, medan laga bersimbah darah. Pasukan Romawi saat itu merasakan pedihnya kekalahan. Mereka kehilangan 50.000 prajuritnya. Prajurit yang selamat lari kocar-kacir ke Damaskus, Antokiah dan ada yang ikut Kaisar Heraclius ke Constatinopel. Pedih juga menghampiri Khalid bin Walid di bukit berbatu. Gregorius yang setelah menyatakan keislamannya ikut membantu pasukan Muslim terbunuh oleh pedang Margiteus yang sebelumnya adalah pasukannya.
Gregorius telah syahid. Panggilan fitrah telah membimbingnya kepada Islam. Kepada iman yang benar. Gregorius tak membutuhkan diskusi yang bertele-tele dan melelahkan untuk menerima Islam. Keberanian, kejujuran, sportifitasnya dan kehebatan strategi perang Khalid telah membawanya kepada pintu gerbang hidayah Islam. Pertemanannya dengan Khalid bin Walid sangat singkat. Namun hal itu terjadi seperti ikan bertemu dengan airnya kembali.
Sungguh, semoga kita semua terjaga iman kita, dan semoga saya sekeluarga dan pembaca semuanya meninggal dengan membawa iman, Islam dan ihsan dalam keadaan khusnul khatimah. Aamiin.
Disampaikan dalam kajian ba'da shubuh di masjid al Basith Kenanten Puri. Ahad, 10 Juli 2016.
SIFAT MAJELIS NABI YANG MENDATANGKAN KETENANGAN
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ حَمْزَةَ الزَّيَّاتِ عَنْ زِيَادٍ الطَّائِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَنَا إِذَا كُنَّا عِنْدَكَ رَقَّتْ قُلُوبُنَا وَزَهِدْنَا فِي الدُّنْيَا وَكُنَّا مِنْ أَهْلِ الْآخِرَةِ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ فَآنَسْنَا أَهَالِينَا وَشَمَمْنَا أَوْلَادَنَا أَنْكَرْنَا أَنْفُسَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّكُمْ تَكُونُونَ إِذَا خَرَجْتُمْ مِنْ عِنْدِي كُنْتُمْ عَلَى حَالِكُمْ ذَلِكَ لَزَارَتْكُمْ الْمَلَائِكَةُ فِي بُيُوتِكُمْ وَلَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَجَاءَ اللَّهُ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ كَيْ يُذْنِبُوا فَيَغْفِرَ لَهُمْ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِمَّ خُلِقَ الْخَلْقُ قَالَ مِنْ الْمَاءِ قُلْنَا الْجَنَّةُ مَا بِنَاؤُهَا قَالَ لَبِنَةٌ مِنْ فِضَّةٍ وَلَبِنَةٌ مِنْ ذَهَبٍ وَمِلَاطُهَا الْمِسْكُ الْأَذْفَرُ وَحَصْبَاؤُهَا اللُّؤْلُؤُ وَالْيَاقُوتُ وَتُرْبَتُهَا الزَّعْفَرَانُ مَنْ دَخَلَهَا يَنْعَمُ لَا يَبْأَسُ وَيَخْلُدُ لَا يَمُوتُ لَا تَبْلَى ثِيَابُهُمْ وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُمْ ثُمَّ قَالَ ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفَتَّحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ لَيْسَ إِسْنَادُهُ بِذَاكَ الْقَوِيِّ وَلَيْسَ هُوَ عِنْدِي بِمُتَّصِلٍ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ بِإِسْنَادٍ آخَرَ عَنْ أَبِي مُدِلَّةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari Hamzah Az Zayyat dari Ziyad Ath Tho`i dari Abu Hurairah berkata: Kami berkata: Wahai Rasulullah, kenapa kami bila berada di dekat baginda, hati kami melunak, kami zuhud di dunia dan kami termasuk ahli akhirat, tapi bila kami bergegas meninggalkan baginda lalu kami bergaul dengan keluargaku, mencium anak-anak kami, kami mengingkari diri kami sendiri (maksudnya agamis seperti semula). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Andai kalian bila pergi meninggalkanku berada dalam kondisi kalian seperti itu, niscaya para malaikat mengunjungi kalian di rumah-rumah kalian dan seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah menciptakan makhluk baru agar mereka berbuat dosa lalu Allah akan mengampuni mereka." Berkata Abu Hurairah: Aku berkata: Wahai Rasulullah, dari apa makhluk diciptakan? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam menjawab: "Dari air." Kami bertanya: Surga, apa bangunanya? Beliau menjawab: Bata dari perak dan bata dari emas, semennya minyak kesturi yang harum, tanahnya mutiara dan permata, debunya za'faran, barangsiapa memasukinya, ia bersenang-senang dengan tidak jemu, kekal, tidak mati, baju mereka tidak usang, kemudaan mereka tidak lenyap." Setelah itu beliau bersabda: "Tiga orang yang doanya tidak tertolak; imam adil, orang puasa saat berbuka dan doa orang yang terzhalimi, doanya diangkat diatas awan dan pintu-pintu langit dibukakan, Rabb 'azza wajalla berfirman: Demi keperkasaanKu, aku akan menolongmu meski setelah selang berapa lama." Berkata Abu Isa: Hadits ini sanadnya tidak kuat dan menurutku tidak tersambung. Hadits ini diriwayatkan dengan sanad lain dari Abu Mudillah dari Abu Hurairah dari nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam. (HR Tirmidzi no 2526 dalam bab Sifat Surga dan Kenikmatannya dan dishahihkan oleh syaikh al Albani)
Jalur sanad dari awal sampai sebelum Tirmidzi:
1. Nama: Abdurrahman bin Shakhr. Kun-yah: Abu Hurairah. Negeri Hidup: Madinah. Tahun wafat: 57 H. Jumlah hadits yang diriwayatkan (terbanyak): Ahmad (3.842 hadits)
2. Rawi terputus: tabi'ut tabi'in kalangan tua. Negeri hidup: Madinah.
3. Ziyad. Tabi'in. Madinah. Komentar: hafidz dhaif (menurut Tirmidzi). tidak dikenal (menurut Adz Dzahabi). Majhul (menurut Ibnu Hajar al 'Atsqalani)
4. Hamzah bin Habib bin Imarah. Abu Umarah. Tabi'ut tabi'in kalangan tua. Madinah. Wafat 158 H. Komentar: Tsiqah (Ahmad, Yahya bin Ma'in, Al 'Ajli, Ibnu Hibban). Laisa bihi ba's (An Nasa'i). Shaduuq (Muhammad bin Sa'ad)
5. Muhammad bin Fudloil bin Ghazwan bin Jarir. Abu Abdurrahman. Tabi'in tidak jumpa shahabat. Madinah. 295 H. Komentar: Tsiqah (Yahya bin Ma'in, Ibnu Hibban, dan Adz Dzahabi), shaduuq (Abu Zur'ah dan Ibnu Hajar al 'Atsqalani)
6. Muhammad bin Al 'Alaa bin Kuraib. Abu Kuraib. Madinah. 248 H. Komentar: shaduuq (Abu Hatim), la ba'sa bih (An Nasa'i), tsiqah (Ibnu Hibban dan Ibnu Hajar al 'Atsqalani), kuufii tsiqah (Maslamah bin Qasim), hafizh (Adz Dzahabi)
Hadits di atas juga ditulis oleh Ibnu Rajab al Hambali dalam Bab Mejelis yang Mengajak Berdzikir kepada Allah dan Majelis Nasehat daam kitab Lathaif al Ma'arif halaman 45. Beliau berkata yang artinya kurang lebih, "Beginilah majelis Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersama para shahabat radhiyallahu 'anhum adalah majelis yang memberikan kabar gembira dan peringatan, dan mempelajari ilmu yang bermanfaat dalam agama. Hal itu sebagaimana yang diperintahkan Allah subhanahu wa ta'ala dalam Kitab-Nya (Al Qur'an) supaya mengingatkan dan memberi nasehat dan mengajak pada jalan Rab-nya dengan cara hikmah dan ucapan-ucapan yang baik. Allah azza wa jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا
"Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi" (QS Al Ahzab 45-46)"
Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan yang artinya:
ثُمَّ قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرحمن بن محمد بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ العَرْزَمي، عَنْ شَيْبَان النَّحْوِيِّ، أَخْبَرَنِي قَتَادَةُ، عَنْ عِكْرِمة، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: لَمَّا نَزَلَتْ: {يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا} -وَقَدْ كَانَ أَمَرَ عَلِيًّا وَمُعَاذًا أَنْ يَسِيرَا إِلَى الْيَمَنِ -فَقَالَ: "انْطَلِقَا فَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا، وَيَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا، إِنَّهُ قَدْ أُنْزِلَ عَلِيَّ: {يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا}
Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Muhammad ibnu Ubaidillah Al-Arzami, dari Syaiban An-Nahwi, telah menceritakan kepadaku Qatadah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu yang mengatakan, bahwa setelah diturunkan firman-Nya: "Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. (Al-Ahzab: 45)" Sebelumnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada sahabat Ali dan sahabat Mu'az radhiyallahu 'anhum untuk berangkat ke negeri Yaman. Maka setelah ayat ini diturunkan, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam berpesan kepada keduanya: "Berangkatlah kamu berdua, dan bersikap optimislah kamu dan janganlah kamu bersikap antipati; dan bersikap mudahlah kalian dan janganlah kalian bersikap mempersulit. Karena sesungguhnya telah diturunkan kepadaku firman Allah subhanahu wa ta'ala: "Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan" (Al-Ahzab: 45)
Imam Tabrani meriwayatkannya dari Muhammad ibnu Nasr ibnu Humaid Al-Bazzar Al-Bagdadi, dari Abdur Rahman ibnu Saleh Al-Azdi, dari Abdur Rahman ibnu Muhammad ibnu Ubaidillah Al-Arzami dengan sanad yang semisal.
Dan di akhirnya disebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"فَإِنَّهُ قَدْ أُنْزِلَ عَلِيَّ: يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا عَلَى أُمَّتِكَ وَمُبَشِّرًا بِالْجَنَّةِ، وَنَذِيرًا مِنَ النَّارِ، وَدَاعِيًا إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ بِإِذْنِهِ، وَسِرَاجًا مُنِيرًا بِالْقُرْآنِ".
Karena sesungguhnya telah diturunkan kepadaku, "Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi atas umatmu dan pembawa kabar gembira surga dan pemberi peringatan dari neraka serta menyeru (manusia) untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, "dengan seizin-Nya, dan sebagai pembawa pelita yang menerangi melalui Al-Qur'an.
Beberapa ulama rahimahumullah menyatakan bahwa "siroj" (cahaya) bagi mukmin di dunia, dan "muniro" (yang menerangi) bagi muslimin yang berdosa di hari kiamat dengan syafa'atnya. Dikatakan juga bahwa cahaya itu ada lima, yaitu satu cahaya di dunia yang berupa api, satu cahaya di agama yaitu Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, satu cahaya di langit yaitu matahari, satu cahaya di surga yaitu surga itu sendiri, dan satu cahaya di hati yaitu ma'rifat (mengenal Allah).
Dengan mendatangi majelis dzikir sesuai contoh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam akan membuat hati lembut penuh dengan hikmah dan kearifan. Turun ketenangan. Allah Azza wa Jalla berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ١٣:٢٨
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati-hati mereka menjadi tenteram dengan berdzikir (mengingat) kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan berdzikir (mengingat) kepada Allah-lah, hati akan menjadi tenteram”. [ar Ra’d / 13 : 28].
لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
"Tidaklah sekelompok orang duduk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat (Allah) meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (para malaikat) yang ada di sisiNya." (HR Muslim, no. 2700.)
Majlis dzikir adalah taman surga di dunia ini.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya,”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.” (HR Tirmidzi, no. 3510 dan lainnya. Lihat Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2562.)
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Barangsiapa ingin menempati taman-taman surga di dunia, hendaklah dia menempati majlis-majlis dzikir; karena ia adalah taman-taman surga.” (Al Wabilush Shayyib, hlm. 145.)
Hikmah
- Dengan mengikuti majelis dzikir akan membuat hati lembut. Zuhud terhadap dunia dan ingat akhirat. Dari hadits di atas terlihat bagaimana perhatiannya para shahabat dalam urusan akhirat mereka, tetapi mereka juga melakukan hal biasa dalam urusan duniawi sehingga membuat mereka risau atasnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu memberikankabar gembira akan dikunjunginya rumah mereka oleh malaikat.
- Dalam hadits di atas juga dikabarkan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala mencintai makhluk-Nya yang apabila berbuat dosa, bertaubat kembali pada-Nya dan Allah mengampuni mereka.
- Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga memberitakan bahwa makhluk baru yang akan diciptakan Allah dari air. Adapun pembahasan lebih dalam masalah ini tidak dicontohkan oleh para shahabat radhiyallahu 'anhum. Kita cukup menerima apa yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
- Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga memberitakan sifat bangunan surga yang penuh dengan keutamaan dan keindahan. Diberitakan pula beberapa kenikmatan surga yang bersifat kekal abadi. Ini merupakan berita gembira yang akan membuat jama'ah majelis dzikir beliau semakin bersemangat dalam mengejar kehidupan akhirat.
- Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberitakan tiga macam doa yang tidak tertolak, yaitu dari pemimpin yang adil, orang puasa saat berbuka dan orang yang terdhalimi.
- Disunnahkan dalam majelis dzikr diberikan waktu bagi hadhirin untuk menanyakan hal-hal yang bermanfaat untuk agama mereka dan sebaiknya dihindari pertanyaan dan pembahasan yang tidak bermanfaat untuk kehidupan dunia apalagi kehidupan akhirat.
Sekian tulisan sederhana saya yang jauh dari kesempurnaan. Semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan saya. Wallahu a'lam bish shawab
Kedungmaling 12 Juli 2016
Wirawan
Maraji':
1. Sunan Tirmidzi, Tirmidzi, aplikasi Ensiklopedi Hadits, versi Al Alamiyah no 2449, versi Maktabatu al Ma'arif no Riyadh no 2526.
2. Lathoif Al Ma’arif fii Maa Limawasimil ‘Aam minal Wazhoif, Ibnu Rajab Al Hambali, tahqiq Yasin Muhammad Sawaas, terbitan Daar Ibnu Katsir, Damaskus, Beirut, tahun 1411 H.
3. http://www.ibnukatsironline.com/2015/09/tafsir-surat-al-ahzab-ayat-45-48.html
4. https://almanhaj.or.id/2886-tenteram-indikasi-kebenaran.html
5. https://almanhaj.or.id/3001-keutamaan-dan-bentuk-majlis-dzikir.html
Jumat, 08 Juli 2016
Hadits ke-3 Arba'in Nawawi Rukun Islam
Berkata al imam an Nawawi rahimahullah ta'ala:
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ.[رواه الترمذي ومسلم ]
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khottob radiallahuanhuma dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan. (Riwayat Turmuzi dan Muslim)
Abu Abdurrahman adalah kun-yah dari Abdullah bin Umar al Khatab. Menggunakan radhiyallahu 'anhum karena ayahnya juga seorang shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Islam dibangun di atas lima perkara" yang membangun adalah Allah subhanahu wa ta'ala. Segala perkara dalam agama ini ditetapkan oleh Allah subahanahu wa ta'ala yang disampaikan melalui Nabi-Nya yang mulia Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah" adalah satu kesatuan tidak bisa terpisah. Syahadatain merupakan amalan lisan dan hati. Dengan syahadatain ini seseorang menjadi seorang muslim.
""menegakkan shalat" adalah amalan ucapan (lisan) dan perbuatan. Adapun yang di dalam hatinya adalah urusan seseorang dengan Rabbnya. Syariat hanya melihat yang diucapkan dan yang dilakukan. Shalat adalah tiang agama. Adalah wajib bagi tiap muslim untuk menjaga segala hal yang berhubungan dengan shalat. Mulai dari ilmu kaifiyah (tata cara) shalat seperti yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dari rukun wajibnya sampai sunnah-sunnahnya. Begitu pentingnya shalat, sehingga bagi yang meninggalkannya bisa dihukumi kafir sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang artinya:
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat, barangsiapa meninggalkannya maka dia kafir.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah dengan sanad yang shahih dari Buraidah Al Aslami)
Adapun Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa meninggalkan shalat dengan sengaja tidaklah kafir –selama meyakini shalat itu wajib-. Pendapat ini diikuti pula oleh ulama-ulama belakangan seperti Syaikh Al Albani rahimahullah sebagaimana dalam risalah beliau Hukmu Tarikish Sholah.
Sumber: https://rumaysho.com/2280-meninggalkan-shalat-bisa-membuat-kafir.html
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ.[رواه الترمذي ومسلم ]
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khottob radiallahuanhuma dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan. (Riwayat Turmuzi dan Muslim)
Abu Abdurrahman adalah kun-yah dari Abdullah bin Umar al Khatab. Menggunakan radhiyallahu 'anhum karena ayahnya juga seorang shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Islam dibangun di atas lima perkara" yang membangun adalah Allah subhanahu wa ta'ala. Segala perkara dalam agama ini ditetapkan oleh Allah subahanahu wa ta'ala yang disampaikan melalui Nabi-Nya yang mulia Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah" adalah satu kesatuan tidak bisa terpisah. Syahadatain merupakan amalan lisan dan hati. Dengan syahadatain ini seseorang menjadi seorang muslim.
""menegakkan shalat" adalah amalan ucapan (lisan) dan perbuatan. Adapun yang di dalam hatinya adalah urusan seseorang dengan Rabbnya. Syariat hanya melihat yang diucapkan dan yang dilakukan. Shalat adalah tiang agama. Adalah wajib bagi tiap muslim untuk menjaga segala hal yang berhubungan dengan shalat. Mulai dari ilmu kaifiyah (tata cara) shalat seperti yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dari rukun wajibnya sampai sunnah-sunnahnya. Begitu pentingnya shalat, sehingga bagi yang meninggalkannya bisa dihukumi kafir sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang artinya:
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat, barangsiapa meninggalkannya maka dia kafir.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah dengan sanad yang shahih dari Buraidah Al Aslami)
Adapun Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa meninggalkan shalat dengan sengaja tidaklah kafir –selama meyakini shalat itu wajib-. Pendapat ini diikuti pula oleh ulama-ulama belakangan seperti Syaikh Al Albani rahimahullah sebagaimana dalam risalah beliau Hukmu Tarikish Sholah.
Sumber: https://rumaysho.com/2280-meninggalkan-shalat-bisa-membuat-kafir.html
"menunaikan zakat" adalah amalan harta. Ketika harta seseorang memenuhi syarat untuk dizakatkan, wajib baginya untuk membayarkannya. Perintah membayar zakat ini selalu erat digandengkan dengan shalat. Oleh karena itu di jaman Abu Bakr ash Shidq radhiyallahu 'anhu mejadi khalifah beliau memerangi oarang-orang yang menolak membayar zakat walaupun mereka syahadat dan shalat. Dan hal ini disepakati oleh Umar bin Khattab dan shahabat lainnya.
"melaksanakan haji" adalah amalan badan dan harta, jika salah satu dari dua hal itu tidak terpenuhi maka ada udzur bagi seseorang untuk tidak menjalankannya. Akan tetapi kemauan dan keinginan untuk berhaji haruslah selalu dimiliki, karena jika Allah subhanahu wa ta'ala sudah memanggil, maka tidak ada yang bisa menghalangi-Nya.
"puasa Ramadhan" adalah amalan badan yang berbeda dengan amalan lainnya. Jika amalan lainnya sifatnya mengerjakan sesuatu, amalan puasa ini menahan dan meninggalkan. Bukan hanya dari hal haram, bahkan yang halal pun jadi haram ketika seseorang berpuasa.
Semua amalan dan rukun Islam di atas adalah amalan wajib bagi seorang yang mengaku muslim. Wajib bagi setiap muslim mempelajari ilmunya sebelum menjalankannya. Dan wajib mempelajari ilmunya walaupun sudah menjalankannya. Karena untuk mendapatkan cinta Allah subhanahu wa ta'ala adalah wajib bagi kita untuk melakukan hal yang Allah cintai. Saking cintanya Allah terhadap amalan ini, sampai-sampai Allah mewajibkannya bagi setiap muslim. Maka jangan sampai salah, banyak orang mengutamakan amalan sunnah tapi meremehkan malan wajib. Yang benar adalah menjaga amalan wajib dan menambahi dengan amalan sunnah sesuai kemampuannya. Tetapi juga jangan sampai ghuluw dalam beibadah sehingga memberatkan badan di luar kemampuannya. Karena sesungguhnya agama ini mudah, jangan dibuat sulit, tapi juga jangan dimudah-mudahkan.
Anas bin Malik Radhiyallahu anhu meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تُشَدِّدُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَيُشَدِّدُ اللهُ عَلَيْكُمْ
فَإِنَّ قَوْمًا شَدَّدُوْا عَلَى أَنْفُسِهِمْ فَشَدَّدَ اللهُ عَلَيْهِمْ
فَتِلْكَ بَقَايَاُهْم فِي الصَّوَامِعِ وَالدِّيَارِ وَرَهْبَانِيَّةً
ابْتَدَعُوْهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ
“Janganlah kamu memberat-beratkan dirimu sendiri, sehingga Allah Azza wa Jalla akan memberatkan dirimu. Sesungguhnya suatu kaum telah memberatkan diri mereka, lalu Allah Azza wa Jalla memberatkan mereka. Sisa-sisa mereka masih dapat kamu saksikan dalam biara-biara dan rumah-rumah peribadatan, mereka mengada-adakan rahbaniyyah (ketuhanan/kerahiban) padahal Kami tidak mewajibkannya atas mereka.”Hadits riwayat Abu Dâwud dan dishahîhkan oleh al-Albâni dalam Silsilah Shahîhah (3124).
Dalam hadits lain pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ إِلاَّ غَلَبَهُ
“Sesungguhnya agama ini mudah. Dan tiada seseorang yang mencoba mempersulit diri dalam agama ini melainkan ia pasti kalah (gagal).” (Hadits riwayat al-Bukhâri)
“Janganlah kamu memberat-beratkan dirimu sendiri, sehingga Allah Azza wa Jalla akan memberatkan dirimu. Sesungguhnya suatu kaum telah memberatkan diri mereka, lalu Allah Azza wa Jalla memberatkan mereka. Sisa-sisa mereka masih dapat kamu saksikan dalam biara-biara dan rumah-rumah peribadatan, mereka mengada-adakan rahbaniyyah (ketuhanan/kerahiban) padahal Kami tidak mewajibkannya atas mereka.”Hadits riwayat Abu Dâwud dan dishahîhkan oleh al-Albâni dalam Silsilah Shahîhah (3124).
Dalam hadits lain pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ إِلاَّ غَلَبَهُ
“Sesungguhnya agama ini mudah. Dan tiada seseorang yang mencoba mempersulit diri dalam agama ini melainkan ia pasti kalah (gagal).” (Hadits riwayat al-Bukhâri)
Disampaikan ba'da shubuh 3 Juli 2016 di masjid al Basith, Kenanen, Puri.
Kamis, 07 Juli 2016
Khutbah Jumat: Lepas dari Ramadhan
إِنَّ
الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ
فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ
إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ.
يَا
أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. (آل عمران: 102)
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً
وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ
عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. (النساء: 1)
يَا
أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ
اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. (الأحزاب: 70-71)
أَمَّا
بَعْدُ:
Jama'ah Jumat yang
dirahmati Allah.
Telah berlalu bulan
Ramadhan yang merupakan bulan penuh berkah. Bulan diturunkannya al Qur'an.
Bulan yang memiliki malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Bulan yang kita
lihat dan saksikan banyak kaum muslimin menggunakannya untuk meningkatkan
keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Bulan yang di dalamnya
Allah lipat gandakan pahala, Allah belenggu setan. Sehingga apabila manusia
melakukan ketaatan tidak diganggu setan dan apabila melakukan dosa dan
kejahatan tidak lain adalah atas kemauannya sendiri, karena setan telah
dibelenggu secara dhahir dan maknawinya.
Satu ayat yang sering
kita dengar di bulan Ramadhan yang lalu:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ
الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang
beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa" (Al Baqarah: 183)
Dua kata kunci yang ingin
saya tekankan di sini adalah IMAN dan TAKWA. Jika kita mengikuti ayat Allah subhanahu
wa ta'ala ini, tujuan utama kita berpuasa adalah sebagai orang yang beriman
yang bertakwa. Lihatlah bagaimana agungnya derajat orang yang Allah terima
amalnya di dalam bulan Ramadhan. Terkhusus puasa Ramadhan. Yaitu bertakwa. Allah
subhanahu wa ta'ala telah menetapkan kedudukan orang bertakwa
sebagaimana berikut:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Sesungguhnya orang yang paling mulia
di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. (QS.
Al Hujurat: 13)
Lalu bagaimana jika suatu
negeri orang-orangnya pada beriman dan bertakwa? Allah subhanahu wa ta'ala
telah menjanjikan sejak 14 abad yang lalu sebagaimana firman Allah berikut ini:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ
لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ
فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk
negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan
kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat
Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96)
Setelah 30 hari berlalu di bulan
Ramadhan, maka tibalah bulan Syawal. Di mana di bulan ini diawali dengan ibadah
tanda kemenangan. Ibadah yang menunjukkan kebahagiaan. Yaitu dimulai dengan
membagikan zakat fitrah selain sebagai kewajiban bagi kita, juga sebagai
pertanda rasa syukur kita tela diberi kesempatan Allah untuk bisa bertemu dan
beribadah di bulan Ramadhan, serta masih bisa bertemu dengan bulan Syawal. Di
pagi harinya kita berduyun-duyun ke lapangan dan sebagian ada yang ke masjid
untuk menjalankan shalat idul Fitri.
Kini, setelah kita menjalani itu. Ada
pertanyaan yang wajib kita tanyakan kepada diri kita sendiri. Apakah ada
perubahan yang baik dalam diri kita? Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:
وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ
دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Dan
rugilah orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan namun belum mendapatkan
ampunan ketika berpisah dengannya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, beliau
mengatakan hadits hasan gharib)
Ibnu Rajab al Hanbaly rahimahullah mengatakan:
"Tidaklah hari raya itu untuk
orang yang memakai (pakaian) baru. Sesungguhnya hari raya itu milik orang yang
ketaatannya bertambah."
Beliau rahimahullah juga
mengatakan:
"Barangsiapa mengerjakan suatu
ketaatan dan selesai darinya, maka tanda diterima ketaatan itu adalah seseorang
itu menggandeng dengan ketaatan lainnya. Dan tanda tidak diterimanya ketaatan
tersebut adalah seseorang menggandeng ketaatan itu dengan maksiat." (Lathaiful
Ma'arif: 289)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sebagai seorang muslim apakah ilmu
kita bertambah setelah Ramadhan ini? Yaitu ilmu tentang bagaimana beribadah
kepada Allah. Ilmu tentang agama Islam ini. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ
الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Agama yang diterima di sisi Allah
hanyalah Islam” (QS. Ali Imran: 19).
Agama yang telah diresmikan oleh Allah
sebagai satu-satunya agama yang Dia terima. Oleh karena itu kita wajib
mensyukuri telah memeluk agama yang sempurna ini untuk memahami ilmu-ilmu yang
terkandung di dalamnya, Allah subahanahu wa ta'ala juga berfirman:
فَاعْلَمْ
أَنَّهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله
“Maka ketahuilah (ilmuilah) bahwa
sesungguhnya tidak ada Tuhan ( yang haq) melainkan Allah.” (QS. Muhammad : 19)
Al Imam Al Biqo’i berkata:
“Sesungguhnya ilmu tentang (لاَ إِلهَ إِلاَّ الله) ini merupakan ilmu yang paling agung yang
dapat menyelamatkan dari kengerian di hari kiamat (Fathul Majid hal. 54) .
Dan beliau shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:
((مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ))
“Barangsiapa yang Allah menghendaki
kebaikan baginya,maka Allah akan fahamkan dia dalam agamanya.”
Sebagai anak, sudahkah kita memuliakan
dan membahagiakan orang tua kita. Karena Jibril 'alaihis salam telah berdoa:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
beliau menceritakan,
أن
رسول الله صلى الله عليه و سلم رقي المنبر فقال : آمين آمين آمين فقيل له يارسول الله ما كنت تصنع هذا ؟ ! فقال : قال لي
جبريل : أرغم الله أنف عبد أو بعد دخل رمضان فلم يغفر له فقلت : آمين ثم قال : رغم
أنف عبد أو بعد أدرك و الديه أو أحدهما لم يدخله الجنة فقلت : آمين ثم قال : رغم
أنف عبد أو بعد ذكرت عنده فلم يصل عليك فقلت : آمين
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa
sallam naik mimbar lalu beliau mengucapkan, ‘Amin … amin … amin.’ Para sahabat
bertanya, ‘Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?’ Kemudian, beliau
bersabda, ‘Baru saja Jibril berkata kepadaku, ‘Allah melaknat seorang hamba
yang melewati Ramadan tanpa mendapatkan ampunan,’ maka kukatakan, ‘Amin.’
Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui
kedua orang tuanya masih hidup, namun itu tidak membuatnya masuk Jannah (karena
tidak berbakti kepada mereka berdua),’ maka aku berkata, ‘Amin.’ Kemudian,
Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang tidak bersalawat ketika
disebut namamu,’ maka kukatakan, ‘Amin.””
Sebagai orang tua, sudahkah kita
mendidik keluarga untuk menegakkan agama Islam ini dengan baik? Minimal apakah
kita sudah mendidik anak-anak kita membaca al Qur'an dan shalat lima waktu
berjamaah dengan baik? Padahal anak-anak kita itu adalah tanggung jawab kita
mendidiknya.
كُلُّ
مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، حَتَّى يُعْرِبَ عَنْهُ لِسَانُهُ،
فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak yang lahir dilahirkan di
atas fitrah hingga ia fasih (berbicara), maka kedua orang tuanya lah yang
menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
Hadits ini diriwayatkan oleh
al-Baihaqi dan ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabir.
Dalam hidup bertetangga atau
bermasyarakat, sudah meningkatkah manfaat yang kita bagikan kepada mereka.
Sudah amankah mereka dari perilaku buruk kita.
عَنْ
أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ : (( مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ
فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ
اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ
اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ)). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ,
dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda: “Barang siapa
beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.
Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia menghormati
tetangganya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia
memuliakan tamunya”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Beberapa hal di atas adalah
amalan-amalan yang apabila kita sudah melakukan dan meningkat setelah bulan
Ramadhan berlalu, insyaAllah menunjukkan amalan kita diterima Allah subhanahu
wa ta'ala. Kalaupun kita tidak tahu apakah amalan kita diterima Allah subahanahu
wa ta'ala paling tidak amaln-amalan itu adalah wujud rasa syukur kita masih
diberi Allah kesempatan mengerjakan amal-amal mulia tadi
Semoga Allah menjadikan kita sebagai
hamba yang dapat melaksanakan amal-amal kebaikan tersebut.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ
فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ
وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ
إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. تَقَبَّلَ اللهُ عَمَلَنَا وَعَمَلَكُمْ
وَجَعَلَهَا فِي مِيْزَانِ حَسَنَاتِنَا، إِنَّهُ وَلِيُّ ذَلِكَ وَالْقَادِرُ
عَلَيْهِ
Khutbah kedua
الحَمْدُ
لِلهِ مُقَدِّرِ الْمَقْدُوْرِ وَمُصَرِّفِ اْلأَيَّامِ وَالشُّهُوْرِ،
وَأَحْمَدُهُ عَلَى جَزِيْلِ نِعَمِهِ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الشَّكُوْرُ، وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ
الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
إِلَى الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ، أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,.
Adapun dalam menemui bulan Syawal ada
di antara kita yang mengalami ujian dari Allah subhanahu wa ta'a. Perlu
diketahui, sesungguhnya ujian yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala
bukanlah suatu hal yang bisa dihindari. Karena kita wajib mengimani masalah
taqdir, yaitu segala sesuatu yang kita alami sudah tercatat oleh Allah di Lauh
Mahfudz dan di lembaran-lembaran taqdir yang Allah berika kepada para malaikat
yang diutus, baik itu taqdir yang baik atau yang kita rasakan buruk.
قَالَ:
فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ
وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ
وَشَرِّ
"Kemudian
dia bertanya lagi: “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman“. Beliau bersabda:
“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik
maupun yang buruk.”" (HR Muslim)
Ingatlah, bahwa apa yang kita rasakan
beban berat ujian ini sebenarnya sangatlah sedikit yang Allah berikan.
Sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta'ala firmankan:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم
بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ
وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ٢:١٥٥
الَّذِينَ
إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ
رَاجِعُونَ ٢:١٥٦
أُولَٰئِكَ
عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ
الْمُهْتَدُونَ ٢:١٥٧
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan
kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan
buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna
lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang
sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat
petunjuk”. [al Baqarah/2:155-157]
Lihatlah yang Allah janjikan. Jika
kita bersabar menghadapi ujian Allah maka Allah akan memberikan keberkahan yang
sempurna dan rahmat dari-Nya. Dan kita akan dimasukkan dalam golongan orang
yang mendapat petunjuk.
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman,
bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di
perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (ali
Imraan: 200)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Seorang muslim sejati tidak pernah
terlepas dari tiga keadaan yang merupakan tanda kebahagiaan baginya, yaitu bila
dia mendapat nikmat maka dia bersyukur, bila mendapat kesusahan maka dia
bersabar, dan bila berbuat dosa maka dia beristighfar (Qowa’idul Arba’, hal.
01),
Sungguh menakjubkan keadaan seorang
mukmin. Bagaimanapun keadaannya, dia tetap masih bisa meraih pahala yang
banyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَجَبًا
ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ
إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ،
وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang
mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali
pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka
yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa
kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.”
(Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin
Sinan radhiyallahu ‘anhu).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita jalani bulan syawal ini
dengan ibadah dan ketaatan, bukan maksiat dan kesia-siaan. Jika merasa ramadhan
kemarin terlalaikan, segeralah beristighfar, mohon ampun dan mohonlah diberi
Allah kesempatan untuk bisa bertemu dengan ramadhan berikutnya. Dn janganlah
berputus asa dalam mencapai rahmat Allah. segeralah qadha hutang puasa jika
memiliki. kerjakan puasa Syawal jika mampu, sebagaimana hadits berikut ini:
Sebagaimana sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,
مَنْ
صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan
kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun
penuh.” (HR. Muslim no. 1164).
Semoga Allah menerima ibadah kita
selama bulan ramadhan kemarin. Jika ada cacat semoga Allah sempurnakan ibadah
kita. Jika masih kurang semoga Allah memberikan kita kesempatan memperbaikinya.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ
عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ
وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ
الدِّيْنِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ
الْمُسْلِمِيْنَ في كُلِّ مَكَانٍ. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ
هَدَيْتَنَا وَهَبْلَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ ... اذْكُرُوا
اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
insya Allah saya sampaikan besok di masjid RS Gatoel Mojokerto.
Label:
iman,
khutbah jumat,
masjid RS Gatoel,
ramadhan,
sabar,
syawal,
syukur,
takwa
Langganan:
Postingan (Atom)