Blog tentang mempelajari sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang mulai banyak ditinggalkan oleh ummat Islam. Hidup ini cuman sekali, ayo perbaiki diri dengan sunnah nabi.
Tampilkan postingan dengan label hadits arba'in. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hadits arba'in. Tampilkan semua postingan
Selasa, 12 Juli 2016
HADITS KEEMPAT Nasib Manusia Telah Ditetapkan (Plus kisah duel Khalid vs Gregorius)
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا
[رواه البخاري ومسلم]
Terjemah Hadits / ترجمة الحديث :
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga.
(Riwayat Bukhori dan Muslim)
Hadits ini dimulai oleh Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu dengan mengatakan "beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan" salah satu kemungkinannya adalah berita yang akan disampaikan belum bisa terbukti di jaman itu. Hal yang akan disampaikan baru terbukti 14 abad kemudian di jaman teknologi sudah canggih dan fakta ilmu kedokteran jauh lebih canggih. Ilmu yang beliau sampaikan adalah proses penciptaan manusia.
Diawali dengan berita dikumpulkannya mani (nutfah) dalam perut/kandungan ibu selama 40 hari. Lalu menjadi 'alaqah (segumpal darah) selama 40 hari juga. Penggunaan kata 'alaqah cukup menarik, karena kata ini sama dengan kata lintah dalam bahasa Arab. Dan secara ilmu kedokteran bentuk dan ukuran 'alaqah (segumpal darah) sama persis dengan lintah. Lalu menjadi mudhghoh (daging) selama 40 hari juga. Jadi total usia bakal janin manusia 120 hari sebelum ditiupkannya ruh.
Setelah sempurna 120 hari Allah mengirimkan seorang malaikat untuk meniupkan ruh. Bagaimana cara meniup dan bagaimana ruh itu tidak perlu diperdalam pembahasannya, karena ruh adalah urusan Allah azza wa jalla yang kita hanya diberi sedikit ilmu tentangnya. Sebagaimana firman Allah berikut ini:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakan: Roh itu dari perkara urusan Tuhanku dan kamu tidak diberikan ilmu pengetahuan melainkan sedikit sahaja.” [al-Israa’ : 85]
Dalam penciptaan manusia Allah mengirim seorang malaikat untuk meniupkan ruh. Ketika manusia meninggal Allah mengirim dua malaikat, yang satu menarik ruh dan yang satu menadahi ruh itu. Dan malaikat maut punya banyak rekan yang ditugaskan membantu dlam mencabut nyawa. Sebagaimana penjelasan berikut:
"Dalam al-Quran, Allah menjelaskan bahwa malaikat maut memiliki banyak rekan di kalangan malaikat ketika mematikan para hamba Allah.
وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لا يُفَرِّطُونَ
Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat- Malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. (QS. Al-An’am: 61)
Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa makna ’ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami adalah bahwa ada banyak malaikat yang ditugaskan untuk mewafatkan.
Kemudian al-Hafidz Ibnu Katsir membawakan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
قال ابن عباس وغير واحد: لملك الموت أعوان من الملائكة، يخرجون الروح من الجسد، فيقبضها ملك الموت إذا انتهت إلى الحلقوم
Ibnu Abbas dan ulama lainnya mengatakan, ”Malaikat maut memiliki beberapa teman di kalangan malaikat. Mereka mengeluarkan ruh dari jasad. Hingga ketika ruh sudah mencapai tenggorokan, malakul maut yang mencabutnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/267).
Dalil lain yang menunjukkan bahwa malakul maut (malaikat pencabut nyawa) ditemani banyak malaikat ketika mematikan manusia, adalah hadis dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنْ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنْ الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مَلَائِكَةٌ مِنْ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الشَّمْسُ مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ السَّلَام حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ
"Sesungguhnya hamba yang beriman ketika hendak meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turunlah malaikat dari langit, wajahnya putih, wajahnya seperti matahari. Mereka membawa kafan dari surga dan hanuth (minyak wangi) dari surga. Merekapun duduk di sekitar mayit sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut ‘alaihis salam. Dia duduk di samping kepalanya." (HR. Ahmad 18543, Abu Daud 4753, dishahihkan Syuaib al-Arnauth dan al-Albani)
Sumber: https://konsultasisyariah.com/22748-bagaimana-malaikat-maut-mencabut-ratusan-nyawa-dalam-satu-waktu.html"
Kembali ke pembahasan setelah malaikat meniupkan ruh, dia diperintahkan Allah "menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya". Dengan mengetahui ini cukuplah manusia zuhud terhadap dunia yang fana ini. Karena perkara kehidupannya di dunia sudah ditentukan. Akan tetapi manusia memiliki kehendak untuk menentukan pilihan. Seperti memilih kehidupan dunia atau akhirat. Sebagaimana firman Allah azza wa jalla:
مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الآخِرَةَ
"Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada pula orang yang menghendaki akhirat" (QS Ali Imran: 152)
Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melanjutkan bersabda, "Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka." Dengan beliau bersumpah menunjukkan hal yang akan beliau sampaikan adalah hal yang amat penting. Di saat manusia mulai yang kafir sampai yang mukmin mengakui bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah AL AMIN, yaitu orang yang jujur tidak pernah bohong sekalipun, masih bersumpah untuk menyampaikan hal yang akan beliau terangkan. Amalan baik bukanlah hal yang patut dibanggakan. Dan bukanlah hal yang patut dijadikan sandaran apalagi keyakinan bahwa amalannya diterima Allah subhanahu wa ta'ala sehingga membuat seseorang khusnul khatimah. TIDAK semudah itu. Karena selamat dan celakanya seseorang dilihat akhir amalnya. Di saat surga hanya berjarak sehasta (sekitar 45cm), tapi dia didahului ketetapan Allah azza wa jalla membuatnya masuk neraka.
Tercatat dalam sejarah Islam beberapa kisah mereka yang su'ul khatimah padahal kemuliaan Islam sudah sempat mereka rengkuh. Ubaidullah bin Jahsy, suami dari Ummu Habibah (nantinya jadi isteri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam), seorang Nasrani mendapat seberkas cahaya hidayah akhirnya masuk Islam. Cobaan berat awal mereka masuk Islam membuat mereka berhijrah ke Habasyah. Ketika di Habasyah cobaan keimanan melanda. Ubaidullah berbincang dengan isterinya bahwa hatinya terpanggil kembali memeluk agama Nasrani. Isterinya mengingatkan dengan penuh kelembutan bahwa jangan sampai membuang hidayah Islam yang sudah dia dapatkan. Ubaidullah tidak bia bertahan. Kembalilah ia memeluk agama Nasrani. Para shahabat yang lainnya sangat menyayangkan langkahnya.Setelah memeluk Nasrani kembali, hari-harinya dipenuhi dengan minum khamr sampai ajal menjemputnya dalam keadaan habis menenggak khamr.
Di jaman pemerintahan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu cahaya Islam meluas melintasi langit dataran Arab. Tatkala penyerbuan ke benteng Romawi tercatatlah kisah buruk kehidupan seorang pengahafal Qur'an yang juga seorang tabi'in. Dalam peperangan terdapat Abdah bin Abdurrahim, dengan menyabetkan pedangnya ke sana ke mari dalam kancah pertempuran dalam perebutan Romawi dia sudah mengirimkan banyak pasukan kafir untuk terjerembab masuk neraka. Kemalangannya dimulai tatkala dia melihat sosok wanita cantik rupawan di balik benteng kokoh Kaisar Romawi. Kecantikan wanita itu menusuk hatinya dan membuatnya mengirim surat kepadanya dan menyatakan ingin merasakan kelembutan dan kasih sayang wanita pujaannya. Gayung bersambut, Abdah menerima balasan suratnya, tapi jawabannya "Kamu masuk ke dalam agama Nashrani lalu kamu naik menemuiku”.
Syahwat dan birahi Abdah telah menutup akal sehatnya. Tidak lama untuknya memutuskan membuang hidayah Islam dan menyatakan memeluk agama Nasrani. Seorang prajurit penghafal Qur'an membuang imannya begitu saja hanya untuk menikmati kecantikan seorang wanita. Menikahlah dia di dalam benteng. Kaum muslimin yang menyaksikan ini sangat terguncang. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa seorang hafidz yang hatinya dipenuhi Al-Qur’an meninggalkan Allah.
Ketika dibujuk untuk taubat ia tak bisa. Ketika ditanyakan kepadanya, “Dimana Al Quran mu yang dulu???”
Ia menjawab, “Aku telah lupa semua isi Al Quran kecuali dua ayat saja yaitu :
رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ
“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.”
ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖفَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (QS. Al Hijr: 2-3).
Seolah ayat ini adalah hujjah untuk dirinya, kutukan sekaligus peringatan Allah yang terakhir namun tak digubrisnya. Dan ia bahagia hidup berlimpah harta dan keturunan bersama kaum Nasrani. Dalam keadaan seperti itulah hingga ajal menjemputnya. Mati dalam keadaan di luar agama Islam.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian melanjutkan, "Dan sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga maka masuklah dia ke dalam surga." Dalam menjelaskan hadits ini saya bawakan kisah mulia seorang shahabat yang syahid padahal belum pernah shalat dan seorang panglima perang Romawi yang menerima hidayah iman melintasi baju besinya.
Kisah Ushairim bani Abdul Asyhal, yaitu Amr bin Tsabit al Waqsy, adalah salah satu kisah mulia perjalanan anak manusia menjemput panggilan Tuhannya. Panggilan hatinya untuk memeluk agama Islam tidak terbendung ketika akan pecah perang Uhud. Dia memacu kudanya dan sembunyi-sembunyi menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dari pihak kafir maupun muslim tidak banyak yang tahu keislamannya. Sampai setelah perang Uhud reda, tatkala para shahabat mengorek tumpukan mayat para syuhada mereka menemukan sesosok Amr yang tubuhnya penuh luka tusukan meregang nyawa.
Mereka berkata, “Demi Allah! Sesungguhnya lelaki ini adalah Ushairim. Apakah yang menyebabkan ia datang kemari? Kami telah meninggalkannya dan ia tidak mau memeluk Islam.”
Mereka pun menanyakan kepada Ushairim mengenai dininya, “Apakah yang menyebabkan engkau kemari, hai Amr? Apakah karena kasihan terhadap kaummu atau karena rasa cintamu kepada Islam?”.
Jawab Ushairim, “Kareña rasa cinta kepada Islam. Aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan aku telah memeluk Islam. Lalu aku mengambil pedangku dan berangkat menyertai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Selanjutnya aku berperang hingga terjadi keadaan seperti ini.”
Tidak lama. kemudian, ia pun meninggal dunia di pangkuan mereka. Kemudian mereka menceritakan apa yang telah terjadi kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan beliau menjawab, “Sesungguhnya Ia adalah dari kalangan ahli Jannah.” (Demikian tercantum dalam kitab al Bidayah (4/37)) Dan Amr adalah shahabat yang belum pernah shalat tapi masuk surga.
Berikutnya kisah yang tak kalah serunya. Bagaimana seorang panglima perang Romawi memeluk Islam hanya dengan percakapan singkat dari Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu. Dia adalah Gregorius Theodorus, seorang panglima perang Romawi yang sangat mencintai kaumnya. Sehingga ketika istirahat, Gregorius memacu kudanya ke tengah medan perang Yarmuk. Dipanggilnya panglima "pedang Allah" Khalid bin Walid, seorang panglima perang yang tidak pernah kalah dalam pertempuran baik ketika masih kafir ataupun sesudah beriman. Saat itu pasukan kafir Romawi berjumlah 240.000 personel sedangkan pihak muslim hanya 40.000 pasukan.
Panggilan duel disambut Khalid dengan memacu kudanya ke arah panglima yang diandalkan pihak lawan. Ribuan pasukan yang sedang istirahat pun melihat pertemuan kedua panglima dari masing-masing pihak. Pihak Romawi merasa unggul dengan turunnya Gregorius, diharapkan duel ini bisa menjatuhkan mental tentara muslim setelah sesi perang sebelumnya dimenangkan pihak muslim. Pihak pasukan muslim tidak kalah bersemangatnya melihat Khalid di atas kudanya dengan debu padang pasir mengiringi laju kudanya. Ketika bertemu di tengah-tengah mereka turun dari kuda mereka dan siap duel.
Duel berlangsung dengan sengitnya, tombak besi Gregorius berputar dan menusuk ke titik yang mematikan. Khalid tak kalah sigapnya menghindari ujung tombak dengan meliuk, berputar dan menebaskan pedangnya. Pertarungan satu lawan satu itu terjadi, disaksikan oleh kubu kedua belah pihak. Dalam duel maut itu, tombak Gregorius patah terkena sabetan pedang Khalid. Luar biasa, rasa takjub begitu saja muncul di benak Gregorius, betapa tidak! Tombak bergagang baja itu rontok oleh sabetan pedang Khalid, padahal sepanjang pertempuran yang dipimpinnya tombak itu menjadi tumpuan pertahanan dirinya. Kepiawaian Khalid memainkan pedangkah? Tenaganya yang kuatkah? Atau memang benar pedangnya diturunkan dari langit? Rasa penasaran panglima Romawi ini makin menjadi-jadi. Dia seperti baru menemukan lawan tanding yang setimpal.
Pedang besar Gregorius dikeluarkan untuk menghadapi Khalid. Namun, Gregorius merasa Khalid selalu memberinya kesempatan untuk mengelak. Untuk kedua kalinya Gregorius merasa kagum kan sikap patriot Khalid yang saat itu sebenarnya sudah menang. Khalid bisa saja melibas lawannya saat itu yang sedang lemah. Tapi kegarangan Khalid di medan perang tidak menutupi kelembutan sikap ksatrianya.
Ketika kedua pedang mereka bertemu dan saling menekan, Gregorius pun bertanya kepada lawan tandingnya dan terjadilah percakapan yang tercatat dengan tinta emas dalam sejarah dunia.
"Ya Khalid, coba katakan dengan sebenar-benarnya dan jangan bohongi saya. Apakah benar Allah telah turun kepada Nabi anda dengan membawa pedang dari langit, lalu menyerahkannya kepada anda, sehingga anda memperoleh julukan "Pedang Allah"? Saya tahu setiap anda mencabut pedang itu, maka tidak ada lawan yang tidak tunduk!"
"Semua itu tidak benar!" tukas Khalid dengan singkat seraya tetap mempermainkan pedangnya untuk menangkis serangan pedang panglima Gregorius.
"Lantas mengapa anda dijuluki Pedang Allah?" tanya Gregorius lagi.
Dan bagaikan tumbuh saling pengertian, keduanya kemudian menghentikan ayunan pedang. Keduanya tegak berhadapan di tengah laga, masih tetap bersiaga, dan meneruskan dialog. "Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia mengutus seorang Nabi kepada kami. Semula kami menentangnya dan memusuhinya. Sebagian dari kami beriman dan mengikutinya. Saya termasuk pihak yang mendustainya dan memusuhinya, tetapi kemudian Allah menurunkan hidayah ke dalam hatiku. Sayapun beriman dan menjadi pengikutnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadaku: 'Ya Khalid, engkau adalah sebuah pedang di antara sekian banyak pedang Allah yang terhunus untuk menghadapi kaum musyrikin!' Ia mendoakan saya supaya tetap menang. Sebab itulah aku dijuluki 'Pedang Allah' ..." Khalid menuturkan apa adanya.
"Saya menerima keterangan anda itu dan tidak lagi percaya dengan segala legenda tentang diri anda," ujar Gregorius yang kemudian meneruskan pertanyaannya. "Di dalam tugas dakwah anda, apa sajakah yang anda sampaikan?"
"Mengakui bahwa tiada yang patut disembah selain Allah, dan mengakui bahwa Muhammad itu Rasul Allah, dan berikrar dalam hati bahwa ajarannya itu datang dari Allah."
"Jika seseorang tidak bersedia menerimanya?"
"Membayar jizyah, mengakui kepemimpinan Islam, dan setelah itu kami berkewajiban menjamin hak miliknya, jiwanya dan juga kepercayaan, keyakinan, agama yang dianutnya!"
"Jika ia tetap tidak mau menerimanya?"
"Pilihan akhir adalah perang, dan kami siap untuk itu!" jawab Khalid singkat-singkat, jelas dan tegas.
Sementara di kedua kubu pasukan yang masih bertanya-tanya tentang apa yang tengah terjadi di dalam perang tanding itu, panglima Gregorius meneruskan lagi dialognya, "Bagaimanakah kedudukan seseorang yang menerima Islam pada pilihan pertama pada hari ini?"
"Kedudukan dan derajat bagi kami hanya satu di antara dua, yaitu apa yang ditetapkan oleh Allah. Mulia atau hina. Tak peduli ia menerima Islam lebih dulu atau belakangan!"
"Jadi, orang yang menerima Islam pada hari ini, ya Khalid, apakah sama kedudukannya dengan yang lain dalam segala hal?" "Ya, Anda benar!" "Mengapa bisa sama ya Khalid? Padahal anda sudah lebih dulu Islam dari padanya?"
"Kami memeluk Islam dan mengikat bai'at dengan Rasul Muhammad 'alaihi wa sallam. Ia hidup bersama kami, dan kami menyaksikan kebesaran dan mu'jizat-mu'jizatnya, hingga beliau wafat. Sedangkan orang yang menerima Islam pada hari ini, tidak pernah berjumpa dengan beliau dan tidak pernah menyaksikan semua itu. Jika orang itu menerima Islam dan menerima kerasulan Muhammad dan pembenarannya itu jujur serta ikhlas, maka sesungguhnya ia jauh lebih mulia dari pada kami!"
"Ya Khalid, keterangan anda sangat benar! Anda tidak menipu, tidak berlebih-lebihan dan tidak membujuk. Demi Allah, saya menerima Islam pada pilihan pertama!"
Pembicaraan itu disaksikan ratusan ribu pasukan Muslim dan Romawi. Pasukan Romawi terkejut dan panik, dan serunai perang pun ditiup guna mempersiapkan serangan besar-besaran terhadap pertahanan umat Islam. Sementara Panglima Gregorius bersyahadat dan minta pengajaran Islam di dalam kemah Khalid. Setelah itu Khalid memerintahkan shahabat barunya, Gregorius, untuk mandi sebagai amalan setelah bersyahadat. Untuk pertama kalinya ia melaksanakan sendi ajaran Islam yang kedua, shalat dua rakaat!
Pertempuran terus berkecamuk, berlangsung dua hari, medan laga bersimbah darah. Pasukan Romawi saat itu merasakan pedihnya kekalahan. Mereka kehilangan 50.000 prajuritnya. Prajurit yang selamat lari kocar-kacir ke Damaskus, Antokiah dan ada yang ikut Kaisar Heraclius ke Constatinopel. Pedih juga menghampiri Khalid bin Walid di bukit berbatu. Gregorius yang setelah menyatakan keislamannya ikut membantu pasukan Muslim terbunuh oleh pedang Margiteus yang sebelumnya adalah pasukannya.
Gregorius telah syahid. Panggilan fitrah telah membimbingnya kepada Islam. Kepada iman yang benar. Gregorius tak membutuhkan diskusi yang bertele-tele dan melelahkan untuk menerima Islam. Keberanian, kejujuran, sportifitasnya dan kehebatan strategi perang Khalid telah membawanya kepada pintu gerbang hidayah Islam. Pertemanannya dengan Khalid bin Walid sangat singkat. Namun hal itu terjadi seperti ikan bertemu dengan airnya kembali.
Sungguh, semoga kita semua terjaga iman kita, dan semoga saya sekeluarga dan pembaca semuanya meninggal dengan membawa iman, Islam dan ihsan dalam keadaan khusnul khatimah. Aamiin.
Disampaikan dalam kajian ba'da shubuh di masjid al Basith Kenanten Puri. Ahad, 10 Juli 2016.
Jumat, 08 Juli 2016
Hadits ke-3 Arba'in Nawawi Rukun Islam
Berkata al imam an Nawawi rahimahullah ta'ala:
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ.[رواه الترمذي ومسلم ]
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khottob radiallahuanhuma dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan. (Riwayat Turmuzi dan Muslim)
Abu Abdurrahman adalah kun-yah dari Abdullah bin Umar al Khatab. Menggunakan radhiyallahu 'anhum karena ayahnya juga seorang shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Islam dibangun di atas lima perkara" yang membangun adalah Allah subhanahu wa ta'ala. Segala perkara dalam agama ini ditetapkan oleh Allah subahanahu wa ta'ala yang disampaikan melalui Nabi-Nya yang mulia Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah" adalah satu kesatuan tidak bisa terpisah. Syahadatain merupakan amalan lisan dan hati. Dengan syahadatain ini seseorang menjadi seorang muslim.
""menegakkan shalat" adalah amalan ucapan (lisan) dan perbuatan. Adapun yang di dalam hatinya adalah urusan seseorang dengan Rabbnya. Syariat hanya melihat yang diucapkan dan yang dilakukan. Shalat adalah tiang agama. Adalah wajib bagi tiap muslim untuk menjaga segala hal yang berhubungan dengan shalat. Mulai dari ilmu kaifiyah (tata cara) shalat seperti yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dari rukun wajibnya sampai sunnah-sunnahnya. Begitu pentingnya shalat, sehingga bagi yang meninggalkannya bisa dihukumi kafir sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang artinya:
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat, barangsiapa meninggalkannya maka dia kafir.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah dengan sanad yang shahih dari Buraidah Al Aslami)
Adapun Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa meninggalkan shalat dengan sengaja tidaklah kafir –selama meyakini shalat itu wajib-. Pendapat ini diikuti pula oleh ulama-ulama belakangan seperti Syaikh Al Albani rahimahullah sebagaimana dalam risalah beliau Hukmu Tarikish Sholah.
Sumber: https://rumaysho.com/2280-meninggalkan-shalat-bisa-membuat-kafir.html
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ.[رواه الترمذي ومسلم ]
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khottob radiallahuanhuma dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan. (Riwayat Turmuzi dan Muslim)
Abu Abdurrahman adalah kun-yah dari Abdullah bin Umar al Khatab. Menggunakan radhiyallahu 'anhum karena ayahnya juga seorang shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Islam dibangun di atas lima perkara" yang membangun adalah Allah subhanahu wa ta'ala. Segala perkara dalam agama ini ditetapkan oleh Allah subahanahu wa ta'ala yang disampaikan melalui Nabi-Nya yang mulia Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah" adalah satu kesatuan tidak bisa terpisah. Syahadatain merupakan amalan lisan dan hati. Dengan syahadatain ini seseorang menjadi seorang muslim.
""menegakkan shalat" adalah amalan ucapan (lisan) dan perbuatan. Adapun yang di dalam hatinya adalah urusan seseorang dengan Rabbnya. Syariat hanya melihat yang diucapkan dan yang dilakukan. Shalat adalah tiang agama. Adalah wajib bagi tiap muslim untuk menjaga segala hal yang berhubungan dengan shalat. Mulai dari ilmu kaifiyah (tata cara) shalat seperti yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dari rukun wajibnya sampai sunnah-sunnahnya. Begitu pentingnya shalat, sehingga bagi yang meninggalkannya bisa dihukumi kafir sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang artinya:
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat, barangsiapa meninggalkannya maka dia kafir.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah dengan sanad yang shahih dari Buraidah Al Aslami)
Adapun Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa meninggalkan shalat dengan sengaja tidaklah kafir –selama meyakini shalat itu wajib-. Pendapat ini diikuti pula oleh ulama-ulama belakangan seperti Syaikh Al Albani rahimahullah sebagaimana dalam risalah beliau Hukmu Tarikish Sholah.
Sumber: https://rumaysho.com/2280-meninggalkan-shalat-bisa-membuat-kafir.html
"menunaikan zakat" adalah amalan harta. Ketika harta seseorang memenuhi syarat untuk dizakatkan, wajib baginya untuk membayarkannya. Perintah membayar zakat ini selalu erat digandengkan dengan shalat. Oleh karena itu di jaman Abu Bakr ash Shidq radhiyallahu 'anhu mejadi khalifah beliau memerangi oarang-orang yang menolak membayar zakat walaupun mereka syahadat dan shalat. Dan hal ini disepakati oleh Umar bin Khattab dan shahabat lainnya.
"melaksanakan haji" adalah amalan badan dan harta, jika salah satu dari dua hal itu tidak terpenuhi maka ada udzur bagi seseorang untuk tidak menjalankannya. Akan tetapi kemauan dan keinginan untuk berhaji haruslah selalu dimiliki, karena jika Allah subhanahu wa ta'ala sudah memanggil, maka tidak ada yang bisa menghalangi-Nya.
"puasa Ramadhan" adalah amalan badan yang berbeda dengan amalan lainnya. Jika amalan lainnya sifatnya mengerjakan sesuatu, amalan puasa ini menahan dan meninggalkan. Bukan hanya dari hal haram, bahkan yang halal pun jadi haram ketika seseorang berpuasa.
Semua amalan dan rukun Islam di atas adalah amalan wajib bagi seorang yang mengaku muslim. Wajib bagi setiap muslim mempelajari ilmunya sebelum menjalankannya. Dan wajib mempelajari ilmunya walaupun sudah menjalankannya. Karena untuk mendapatkan cinta Allah subhanahu wa ta'ala adalah wajib bagi kita untuk melakukan hal yang Allah cintai. Saking cintanya Allah terhadap amalan ini, sampai-sampai Allah mewajibkannya bagi setiap muslim. Maka jangan sampai salah, banyak orang mengutamakan amalan sunnah tapi meremehkan malan wajib. Yang benar adalah menjaga amalan wajib dan menambahi dengan amalan sunnah sesuai kemampuannya. Tetapi juga jangan sampai ghuluw dalam beibadah sehingga memberatkan badan di luar kemampuannya. Karena sesungguhnya agama ini mudah, jangan dibuat sulit, tapi juga jangan dimudah-mudahkan.
Anas bin Malik Radhiyallahu anhu meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تُشَدِّدُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَيُشَدِّدُ اللهُ عَلَيْكُمْ
فَإِنَّ قَوْمًا شَدَّدُوْا عَلَى أَنْفُسِهِمْ فَشَدَّدَ اللهُ عَلَيْهِمْ
فَتِلْكَ بَقَايَاُهْم فِي الصَّوَامِعِ وَالدِّيَارِ وَرَهْبَانِيَّةً
ابْتَدَعُوْهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ
“Janganlah kamu memberat-beratkan dirimu sendiri, sehingga Allah Azza wa Jalla akan memberatkan dirimu. Sesungguhnya suatu kaum telah memberatkan diri mereka, lalu Allah Azza wa Jalla memberatkan mereka. Sisa-sisa mereka masih dapat kamu saksikan dalam biara-biara dan rumah-rumah peribadatan, mereka mengada-adakan rahbaniyyah (ketuhanan/kerahiban) padahal Kami tidak mewajibkannya atas mereka.”Hadits riwayat Abu Dâwud dan dishahîhkan oleh al-Albâni dalam Silsilah Shahîhah (3124).
Dalam hadits lain pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ إِلاَّ غَلَبَهُ
“Sesungguhnya agama ini mudah. Dan tiada seseorang yang mencoba mempersulit diri dalam agama ini melainkan ia pasti kalah (gagal).” (Hadits riwayat al-Bukhâri)
“Janganlah kamu memberat-beratkan dirimu sendiri, sehingga Allah Azza wa Jalla akan memberatkan dirimu. Sesungguhnya suatu kaum telah memberatkan diri mereka, lalu Allah Azza wa Jalla memberatkan mereka. Sisa-sisa mereka masih dapat kamu saksikan dalam biara-biara dan rumah-rumah peribadatan, mereka mengada-adakan rahbaniyyah (ketuhanan/kerahiban) padahal Kami tidak mewajibkannya atas mereka.”Hadits riwayat Abu Dâwud dan dishahîhkan oleh al-Albâni dalam Silsilah Shahîhah (3124).
Dalam hadits lain pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ إِلاَّ غَلَبَهُ
“Sesungguhnya agama ini mudah. Dan tiada seseorang yang mencoba mempersulit diri dalam agama ini melainkan ia pasti kalah (gagal).” (Hadits riwayat al-Bukhâri)
Disampaikan ba'da shubuh 3 Juli 2016 di masjid al Basith, Kenanen, Puri.
Sabtu, 11 Juni 2016
Hadits Arba'in No. 2 Islam Iman dan Ihsan
HADITS KEDUA
Islam, Iman dan Ihsan
عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .
[رواه مسلم]
Arti hadits / ترجمة الحديث :
Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“. Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata: “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda: “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.
(Riwayat Muslim)
Penjelasan Ringkas:
"Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari" menunjukkan betapa tawadlu'nya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang terbiasa duduk-duduk denganpara shahabat. "... seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya" dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin rahimahullahu ta'ala bahwa lelaki itu usianya masih muda, bajunya sangat putih menunjukkan bukan dalam kondisi safar, tetapi di Madinah tidak ada seorang pun yang mengenalnya. (Kitab Syarah Arba'in Nawawi)
Lalu laki-laki itu mendekat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan menyebut "Yaa Muhammad.." menunjukkan akrabnya laki-laki itu dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Dia menanyakan tentang Islam. Islam adalah satu-satunya agama yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala sebagaimana firman-Nya:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكاَةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءُهُمْ وَأَمْوَالُـهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالىَ [رواه البخاري ومسلم ]
Dari Ibnu 'Umar radhiallahu 'anhuma, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah, menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat. Barangsiapa telah mengucapkannya, maka ia telah memelihara harta dan jiwanya dari aku kecuali karena alasan yang hak dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah ta'ala".
(HR. Bukhari dan Muslim).
Islam, Iman dan Ihsan
عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .
[رواه مسلم]
Arti hadits / ترجمة الحديث :
Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“. Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata: “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda: “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.
(Riwayat Muslim)
Penjelasan Ringkas:
"Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari" menunjukkan betapa tawadlu'nya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang terbiasa duduk-duduk denganpara shahabat. "... seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya" dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin rahimahullahu ta'ala bahwa lelaki itu usianya masih muda, bajunya sangat putih menunjukkan bukan dalam kondisi safar, tetapi di Madinah tidak ada seorang pun yang mengenalnya. (Kitab Syarah Arba'in Nawawi)
Lalu laki-laki itu mendekat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan menyebut "Yaa Muhammad.." menunjukkan akrabnya laki-laki itu dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Dia menanyakan tentang Islam. Islam adalah satu-satunya agama yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran: 19).
Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab Islam itu:
1. Bersaksi tidak ada yang patut disembah kecuali Allah semata, dan Muhammad adalah Rasulullah (utusan Allah). Persaksian ini tidak dapat dipisah. Persaksian ini menyatakan tauhid dalam beribadah hanya kepada Allah semata dan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
2. Mendirikan shalat. Shalat fardhu adalah membedakan antara seorang yang muslim dan kafir. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam artinya:
“Sesungguhnya ( batas pemisah ) antara seseorang dengan kemusyrikan dan
kekafiran adalah meninggalkan shalat.” ( HR. Muslim, dalam kitab al
iman ).
3. Membayar zakat. Zakat ini adalah termasuk 3 amalan dasar dalam Islam, jika seseorang tidak mau berzakat padahal dia mampu maka bisa diperangi. Allah Ta'ala mensyari'atkan kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa
sallam untuk memerangi manusia yang tidak melaksanakan shalat dan
mengeluarkan zakat.
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكاَةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءُهُمْ وَأَمْوَالُـهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالىَ [رواه البخاري ومسلم ]
Dari Ibnu 'Umar radhiallahu 'anhuma, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah, menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat. Barangsiapa telah mengucapkannya, maka ia telah memelihara harta dan jiwanya dari aku kecuali karena alasan yang hak dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah ta'ala".
(HR. Bukhari dan Muslim).
Tatkala Rasulullah wafat dan Abu Bakar Ash Shiddiq diangkat sebagai
khalifah untuk menggantikannya, sebagian dari orang Arab menjadi kafir.
Abu Bakar bertekad untuk memerangi mereka sekalipun di antara mereka ada
yang tidak kafir tetapi menolak membayar zakat. Abu Bakar lalu
mengemukakan alasan perbuatannya itu, tetapi 'Umar berkata kepadanya :
"Bagaimana engkau akan memerangi manusia sedangkan mereka mengucapakan
laa ilaaha illallaah dan Rasulullah bersabda : "Aku diperintah untuk
memerangi manusia sampai ia mengucapkan laa ilaaha illallaah ... dan
kelak perhitungannya terserah kepada Allah Ta'ala". Abu Bakar lalu
menjawab : "Sesungguhnya zakat itu adalah kewajiban yang bersifat
kebendaan". Lalu katanya : "Demi Allah, kalau mereka merintangiku untuk
mengambil seutas tali unta yang mereka dahulu serahkan sebagai zakat
kepada Rasulullah, niscaya aku perangi mereka karena penolakannya itu".
Maka kemudian Umar mengikuti jejak Abu Bakar untuk memerangi kaum
tersebut.
4. Puasa Ramadhan. Dalam bulan Ramadhan terkumpul banyak amalan seperti puasa, shalat, zakat, sedekah , membaca al Qur'an dan amal lainnya yang dilipatgandakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
5. Haji ke baitullah jika mampu.
Dari kelima rukun Islam di atas urutan yang tidak berubah adalah 1, 2, dan 3, sedangkan yang 4 dan 5 bisa ditukar. Sebagaimana hadits ketiga yang insyaAllah akan kita bahas berikutnya. Itu karena urutan 1-3 wajib dikerjakan, untuk zakat bagi yang mampu wajib. Sedangkan untuk puasa dan haji banyak rukhshah di dalamnya. Puasa jika tidak mampu bisa diqadla di lain hari atau membayar fidyah, insyaAllah akan dibahas rinci di bahasan berikutnya. Sedangkan haji tidak hanya harta sebagai syaratnya, walaupun memiliki harta untuk berhaji tetapi secara fisik tidak mampu maka tidak dibebankan kewajiban untuk menjalankannya.
InsyaAllah untuk iman dan ihsan akan dibahas pada ahad depan.
Label:
al basith mojokerto,
hadits arba'in,
haji,
ihsan,
iman,
islam,
puasa,
shalat,
syahadat,
zakat
Hadits Arba'in No 1 Keutamaan Niat
HADITS PERTAMA
Ikhlas
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .
[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]
Arti Hadits / ترجمة الحديث :
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khaththab radiallahu 'anhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.
(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .
Penjelasan singkat:
Niat ini letaknya di awal atau sebelum beramal. Niat membedakan antara amalan biasa dengan amalan ibadah. Niat juga membedakan amalan wajib atau sunnah. Niat menentukan akhir dari amalan seseorang. Amalannya diterima oleh Allah atau tidak tergantung niatnya.
Niat ikhlash dalam beribadah maksudnya adalah amalan itu dikerjakan karena Allah dan hanya untuk Allah semata. Akan tetapi niat ikhlash juga dibarengi dengan ittiba' yaitu mencontoh amalan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Adapun penjelasan ittiba' ini insyaAllah akan dijelaskan di hadits-hadits berikutnya.
"Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya." dalam kalimat ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengulang Allah dan Rasul-Nya menunjukkan mulianya niat yang ikhlash karena Allah yang dilakukan sesuai dengan petunjuk Rasul-Nya. Sedangkan ketika menyebutkan amalan yang niatnya karena dunia atau wanita yang dinikahi beliau tidak mengulangnya menunjukkan hinanya amalan dengan niat seperti itu.
Sehubungan dengan besok (6 Juni 2016) insyaAllah kita mulai puasa Ramadhan, marilah kita murnikan niat puasa hanya untuk Allah subhanahu wa ta'ala, bukan untuk diet atau supaya sehat. Niat puasa karena Allah, perkara sakit atau sehat itu urusan Allah subhanahu wa ta'ala.
(Disampaikan di Masjid al Basith Puri Mojokerto, 5 Juni 2016)
Ikhlas
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .
[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]
Arti Hadits / ترجمة الحديث :
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khaththab radiallahu 'anhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.
(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .
Penjelasan singkat:
Beliau adalah Umar bin al-Khaththab bin Nufail
bin Adi bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin
Ka’ab bin Lu’ai, Abu Hafs al-’Adawi. Julukan beliau adalah al-Faruq. Ada yang menyebutkan
bahwa gelar itu berasal dari Ahli Kitab.
Adapun ibunya bernama Hantamah binti Hisyam
bin al-Mughirah, kakak dari Abu Jahal bin Hisyam.Niat ini letaknya di awal atau sebelum beramal. Niat membedakan antara amalan biasa dengan amalan ibadah. Niat juga membedakan amalan wajib atau sunnah. Niat menentukan akhir dari amalan seseorang. Amalannya diterima oleh Allah atau tidak tergantung niatnya.
Niat ikhlash dalam beribadah maksudnya adalah amalan itu dikerjakan karena Allah dan hanya untuk Allah semata. Akan tetapi niat ikhlash juga dibarengi dengan ittiba' yaitu mencontoh amalan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Adapun penjelasan ittiba' ini insyaAllah akan dijelaskan di hadits-hadits berikutnya.
"Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya." dalam kalimat ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengulang Allah dan Rasul-Nya menunjukkan mulianya niat yang ikhlash karena Allah yang dilakukan sesuai dengan petunjuk Rasul-Nya. Sedangkan ketika menyebutkan amalan yang niatnya karena dunia atau wanita yang dinikahi beliau tidak mengulangnya menunjukkan hinanya amalan dengan niat seperti itu.
Sehubungan dengan besok (6 Juni 2016) insyaAllah kita mulai puasa Ramadhan, marilah kita murnikan niat puasa hanya untuk Allah subhanahu wa ta'ala, bukan untuk diet atau supaya sehat. Niat puasa karena Allah, perkara sakit atau sehat itu urusan Allah subhanahu wa ta'ala.
(Disampaikan di Masjid al Basith Puri Mojokerto, 5 Juni 2016)
Label:
al basith mojokerto,
hadits arba'in,
ikhlash,
niat
Langganan:
Postingan (Atom)